Sebelum memulai: Niatkan ziarah ini lillahi ta'ala — karena Allah semata. Bejalanlah dengan tenang, jaga keheningan, dan hormati jiwa-jiwa yang beristirahat di sekitar kita.
Sebelum mencapai makam orang yang kita cintai, ucapkan salam kepada seluruh jiwa yang beristirahat di pemakaman itu. Ini adalah sunnah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Salam ini juga mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita pun akan menyusul mereka suatu saat nanti — sebuah pengingat yang melembutkan hati.
Adab berjalan: Berjalanlah dengan tenang dan hati-hati. Jangan melangkahi makam orang lain. Dekati makam yang dituju dari arah samping — bukan dari arah kepala atau kaki jenazah.
Para ulama NU berpegangan pada hadits yang menyatakan bahwa orang yang sudah wafat dapat merasakan kehadiran peziarah. Ini bukan takhayul, melainkan keyakinan yang berakar pada nash. Bersapaan secara langsung adalah sunnah — bicaralah dengan tulus, dalam bahasa apapun yang paling natural bagimu.
Setelah salam, boleh berbicara bebas — rasa rindu, terima kasih, kabar terbaru, atau sekedar diam bersama. Air mata tidak dilarang; Rasulullah ﷺ sendiri menangis di makam ibunda beliau. Yang dilarang hanyalah meraung atau meratap berlebihan.