Ziarah · Mengenang
Perjalanan Hidup
Sembilan puluh tahun, dalam lima babak. Dibaca dalam perjalanan menuju makam beliau
di Karawang — agar yang berziarah tiba dengan seluruh kisahnya di dalam hati.
Mengenang
Justina Rivai
binti Buyung Paduko Rajo
1936 — 2026
Ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam hidupnya: kehadirannya bagi orang-orang yang dicintainya.
Dari buku kenangan keluarga
Babak I · 1936 – 1962
Menemukan Jati Diri
Dari sebuah rumah kayu mungil di Selayo, sampai gelar sarjana di Jakarta.
1936
Lahir di sebuah rumah kayu mungil di Selayo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat — anak sulung dari tiga bersaudara, dengan dua adik laki-laki.
Masa kecil
Ayahnya wafat ketika mereka semua masih kecil. Tahun-tahun sulit yang menyusul dijalani bersama ibunda dan saudara perempuan ibunya. Satu kisah yang beliau ceritakan kepada anak-anaknya tak pernah dilupakan: kedua perempuan itu pernah menghadapi tiga laki-laki yang datang membawa sabit hendak merampas panen dari sawah mereka — dan menang. Sawah itu harato pusako, diwariskan melalui garis perempuan; mereka bukan hanya berani, mereka berada di pihak yang benar.
1944 – 1952
Bersekolah di Selayo dan Solok — dan dari rumah itu beliau membawa bekal seumur hidupnya: memasak, menggunting, menjahit, menyulam, dan keteguhan hati yang tenang, yang tak mudah ditakut-takuti.
1951
Danau kecil di Ampangkualo, Solok. Ia lima belas tahun; Abdul Rivai delapan belas. Sebuah perahu kecil dengan hanya mereka berdua di atasnya — air yang tenang, angin pelan, dan hampir tidak ada yang diucapkan. Tujuh puluh lima tahun kemudian Rivai masih mengingatnya persis: “Sejak saat itu aku tahu ada sesuatu dalam dirimu yang membuat hatiku tenang dan bahagia.”
1953 – 1956
Tiga tahun di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) di Padang — menggunting pola, menjahit, menyulam, memasak, mengelola rumah tangga. Ini pula tahun-tahun baju yang robek: Rivai hanya punya satu setel pakaian yang terus robek, dan tanpa sepatah keluhan pun Justina mengambil jarum dan benang, lalu menjahitnya dengan tangannya sendiri.
1957 – 1958
Mengajar di Sekolah Kepandaian Putri di Jambi dan di Solok.
1959 – 1962
Pada 1959, di usia dua puluh tiga tahun, berangkat sendiri ke Jawa — kuliah di Fakultas Kesejahteraan dan Ilmu Pendidikan di Jakarta, sementara Rivai menjalani tahun kelimanya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Lulus Sarjana Muda pada 1962 — perempuan pertama di keluarganya yang meraih gelar.
Babak II · 1962 – 1978
Membangun Keluarga
Enam puluh tiga tahun enam bulan bersama Ayah dimulai di Selayo.
1962
Menikah dengan dr. Abdul Rivai di Selayo — sebelas tahun setelah perahu di danau itu. Enam puluh tiga tahun enam bulan kemudian, Rivai menulis kepadanya: “Terima kasih karena tidak pernah malu hidup bersama laki-laki miskin yang hanya mempunyai mimpi.”
1963
Pindah ke Bandung — tempat praktik di Jalan Buah Batu, dan rumah di Cipunegara yang kelak menjadi alamat yang dikenang semua orang.
1964 – 1978
Lima anak dalam empat belas tahun: Jenny (1964), Wati (1965), Myrni (1970), Santi (1973), dan Andika (1978). Hari-harinya: antar-jemput sekolah, pasar, makan siang dan makan malam, dan proyek apa pun yang sedang berada di mesin jahit minggu itu. Uang sempat ketat sampai akhir 1960-an — namun selalu ada tiga hidangan di meja makan, dan pakaian yang pas di badan, kebanyakan digunting dan dijahitnya sendiri, sering dua setel serupa agar kedua putri sulung tampak seperti anak kembar.
1960-an
Jauh sebelum orang berbicara tentang whole food, beliau menolak makanan kemasan untuk anak-anaknya. Penjelasannya satu kalimat: “Makanan itu hanya mengenyangkan, tetapi kurang gizinya.”
Babak III · 1968 – 2005
Menjadi Ibu Bagi Banyak Orang
Rumah di Buah Batu, kemudian Cipunagara, yang pintunya tidak pernah tertutup.
Pepatah
Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan — anak sendiri dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipertenggangkan. Beliau tidak menciptakan pepatah itu; beliau mewarisinya, lalu menjalankannya dalam skala yang tidak diminta siapa pun.
37 tahun
Selama tiga puluh tujuh tahun rumah itu terbuka: keponakan, sepupu, anak sahabat, mahasiswa yang datang ke Bandung dari Solok, Selayo, dan Padang — diberi makan, ditampung, diantar sekolah, ditemani belajar, dan diterima menjadi keluarga tanpa upacara. Ada yang tinggal sebulan; ada yang sepuluh tahun. Beberapa datang tanpa tempat tujuan lain, dan pulang membawa gelar. Puluhan orang melewati Cipunegara dan Buah Batu dengan cara ini.
Setiap siang
Selama puluhan tahun, makan siang yang dimasak di Cipunegara diantar melintasi kota ke tempat praktik di Buah Batu — agar siapa pun yang baru datang dari kampung dan sedang menunggu di sana ikut makan. Hampir semuanya dilakukan tanpa kata-kata. Seperti kata salah satu dari mereka: less talk, do more.
Babak IV · 1990 – 2022
Menjadi Andung
‘Nenek’ dalam bahasa Minangkabau — dan hadir di setiap kelahiran.
1990 – 2014
Enam cucu, dan beliau datang menyambut setiap kelahirannya — terbang ke Amerika Serikat dan ke Beijing, tinggal berbulan-bulan agar seorang ibu baru dapat tidur. Diandra diasuhnya di Bandung ketika orang tuanya bekerja di Amerika. Zivan diantarnya ke taman kanak-kanak setiap hari — duduk di dalam kelas, satu-satunya nenek di sana, sampai Zivan siap. Di Istanbul beliau memilih menemani Zivan di bangku tepi air, dan membungkusnya dengan selendangnya sendiri.
Usia 70-an
Di Paris, beliau memisahkan diri dari rombongan keluarga, naik Metro sendirian, menemukan Galeries Lafayette Haussmann, dan kembali dengan wajah berseri-seri — lalu keesokan harinya memimpin semua orang ke sana.
2022
Menjadi Andung Gaek bagi cicit pertamanya, Alila — empat generasi dalam satu foto, dan sambutan tenang yang sama diberikan sekali lagi. Pada masa itu ingatannya mulai melonggar untuk hal-hal yang baru terjadi, namun kisah-kisah lama tetap utuh. Candanya bertahan sampai akhir, dan beliau tidak pernah berhenti mengenali orang-orang yang dicintainya.
Babak V · 2026
Perjalanan Terakhir
Setiap perjalanan panjang berakhir dengan pulang.
11 Mei 2026
Berpulang dengan damai di RS Borromeus, Bandung, dengan suaminya di sisinya. Pada dini hari sebelum subuh beliau sempat terbangun, berdoa, mengucap La ilaha illallah, lalu kembali tertidur dengan tenang.
Mei 2026
Dimakamkan di San Diego Hills, Karawang — tempat peristirahatan terakhir yang kini kita ziarahi.
Peristirahatan Terakhir
San Diego Hills
Memorial Park, Karawang
Sebuah taman pemakaman yang ditata seperti taman: berbukit landai, dengan danau dan
hamparan hijau. Panduan ziarah menuntun langkah dari gerbang sampai doa penutup.
إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.
Al-Fatihah