Tahlil adalah inti ziarah kubur. La ilaha illallah — tiada tuhan selain Allah — adalah kalimat tertinggi dalam Islam, kalimat yang diucapkan saat seseorang masuk Islam, dan kalimat yang diharapkan menjadi kalimat terakhir sebelum wafat. Mengumandangkannya berulang di sisi makam mengalirkan gelombang tauhid kepada jiwa yang beristirahat di sana.
Ucapkan minimal 33 kali — boleh lebih banyak. Pejamkan mata jika perlu, resapi maknanya.
Jika berziarah bersama rombongan, satu orang dapat memimpin tahlil dengan suara lantang sementara yang lain mengikuti dalam hati atau dengan suara pelan. Anak-anak pun boleh ikut mengucapkan La ilaha illallah.
Tutuplah dengan doa — pertama doa formal untuk orang yang wafat, kemudian doa Al-Qur'an untuk orang tua, lalu doa pribadi dengan kata-kata sendiri. Doa pribadi tidak kalah pentingnya dari doa berbahasa Arab. Allah mendengar setiap bahasa, setiap bisikan.
Sebutkan beliau lebih dulu. Doa didahului khushushan — menyebut secara khusus siapa yang dituju. Sebelum membaca doa di bawah, ucapkan dalam hati atau dengan suara pelan:
"Khushushan ila ruhi Almarhumah Justina binti Buyung Paduko Rajo."
"Khususnya untuk ruh Almarhumah Justina binti Buyung Paduko Rajo." Setelah itu, doa di bawah dibaca untuk beliau.
Lanjutkan dengan doa pribadi — dalam bahasa Indonesia, Minang, atau bahasa apapun yang terasa paling dekat di hati. Sampaikan rasa rindu, terima kasih, harapan, dan permohonan ampun untuk beliau. Tidak ada batasan waktu. Allah mendengar semuanya.
Ziarah Selesai
Tidak ada batas waktu
di sisi makam.
Duduklah selama yang dibutuhkan. Perciki tanah makam dengan air jika tersedia — ini sunnah. Boleh menyentuh nisan atau tanah makam. Tanaman atau bunga di atas makam diperbolehkan menurut para ulama.
"Ziarahlah ke kubur, karena ia mengingatkanmu kepada kematian."
— HR. Muslim, dari Abu Hurairah ؓ
Perpisahan ini hanya terjadi di dunia. Cinta yang dibangun dengan ketulusan tidak berakhir ketika kematian datang.
Ayah — “Surat Terakhir”
Panduan ini mengikuti mazhab Syafi'i.