Dari Buku Kenangan · 45 Tulisan

Kenangan dari
Keluarga & Sahabat

Kenang-kenangan yang ditulis oleh keluarga dan sahabat, yang telah meluangkan waktu untuk menulis dan mengenang Mama dengan kisah mereka masing-masing. Ketuk sebuah nama untuk membaca tulisannya.

Ilustrasi cat air: seorang ibu menjahit di mesin jahitnya, dikelilingi untaian mawar
1 tulisan

Suami

Surat Terakhir

Hari ini sudah seratus hari sejak kau meninggalkanku. Rumah kita masih berdiri seperti dahulu, tapi rasanya berbeda. Masih ada kursi tempat kau biasa duduk, masih ada kamar dan tempat tidur yang biasa kita tempati bersama, masih ada kenangan di setiap sudut rumah. Hanya satu yang tidak ada lagi: dirimu.

Djus, masih jelas dalam ingatanku masa-masa kita mulai berkenalan. Aku masih mengenang danau kecil di Ampangkualo, Solok. Di atas perahu kecil hanya ada engkau dan aku. Air danau tenang, angin berembus pelan, dan kita hampir tidak banyak berbicara. Tetapi sejak saat itu aku tahu ada sesuatu dalam dirimu yang membuat hatiku tenang dan bahagia.

Aku masih ingat pakaianku yang sering robek, karena hanya itu yang aku miliki. Tanpa pernah mengeluh, Djus mengambil jarum dan benang, lalu menjahitnya dengan tangannya sendiri. Sekarang, setelah merenung, rupanya yang Djus jahit waktu itu bukan hanya pakaianku — Djus sedang menjahit masa depan keluarga kita.

Terima kasih karena tidak pernah malu hidup bersama laki-laki miskin yang hanya mempunyai mimpi. Terima kasih engkau sudah memberikan dukungan, kedamaian, dan kebahagiaan selama 63 tahun 6 bulan kita berumah tangga.

Perpisahan ini hanya terjadi di dunia. Cinta yang dibangun dengan ketulusan tidak berakhir ketika kematian datang. Ia berubah menjadi doa; ia berubah menjadi kenangan; ia berubah menjadi harapan untuk bertemu kembali.

Apabila Allah memanggilku, aku berharap engkau menjadi orang pertama yang menyambutku dengan senyumanmu yang lembut seperti selama ini. Terima kasih atas kesetiaanmu. Terima kasih atas cintamu. Selamat beristirahat dalam kasih sayang Allah.

5 tulisan

Anak-anak

Kesan yang paling kuat tentang Mama adalah kekuatan dan disiplin Mama dalam menjalani hidup sehari-hari. Setiap hari Mama mengantar-jemput anak-anak sekolah, pergi ke pasar, menyiapkan makan siang dan makan malam, serta mengerjakan proyek tambahan seperti menjahit baju dan taplak.

Mama juga mengajarkan saya untuk mempertahankan hak diri. Dari Mama saya belajar bahwa batas antara menjadi korban dan berhenti menjadi korban sering kali ditentukan oleh keberanian kita sendiri. Kita bisa mengubah keadaan ketika kita berdiri, menatap, dan berkata "cukup".

Saat saya akan melahirkan anak pertama di luar negeri, Mama datang mendampingi saya selama tiga bulan. Ketika Armand menangis semalaman karena colic, Mama yang terus menggendongnya dan menyuruh saya beristirahat. Tanpa kehadiran Mama, saya mungkin akan panik dan frustasi.

Mama juga seorang yang berani dan resourceful. Suatu hari di Paris, Mama memutuskan tidak ikut sightseeing. Saat kami pulang, Mama belum kembali ke hotel. Tidak lama kemudian beliau datang dengan wajah berseri-seri: rupanya Mama memberanikan diri naik Metro sendiri dan menemukan Galeries Lafayette Haussmann. Keesokan harinya beliau mengajak kami ke sana. Kami semua kagum karena Mama menemukan sendiri salah satu ikon kota Paris.

Rumah kami juga selalu terbuka bagi keluarga besar. Sejak saya kecil, tidak sedikit keponakan atau kerabat dari kota lain yang bersekolah di Bandung dan tinggal bersama Ayah dan Mama. Setiap Idul Fitri rumah kami selalu dipenuhi sanak saudara — Mama memasak ketupat, ayam panggang, gulai kambing, rendang, sayur lodeh, sate Padang, bahkan spaghetti untuk anak-anak. Saya selalu mengagumi keluasan hati Mama menerima begitu banyak orang di rumah kami.

Selamat jalan, Mama. Terima kasih untuk semua cinta, perhatian, pengorbanan, dan teladan yang Mama berikan sepanjang hidup Mama.

Pada waktu saya kecil, saya sering melihat Mama menghabiskan waktu berjam-jam di depan mesin jahitnya, membuatkan pakaian yang bahan dan modelnya sama persis untuk saya dan Jenny pakai. Sekarang saya bisa melihat kembali foto-fotonya, dan saya pikir Mama sangat kreatif mendesain baju untuk kami.

Saya akan selalu ingat persiapan yang kami lakukan bersama setiap menghadapi Lebaran — membuat kue kering, membereskan rumah, memasang taplak meja baru hasil sulaman Mama, dan semua kehebohan di dapur waktu Mama memasak ketupat, gulai buncis, ayam bakar, rendang, dendeng balado, sate padang, tape, dan makanan khas Lebaran lainnya.

Mama tidak pernah menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli perhiasan mahal, make up, pakaian, ataupun tas bermerek untuk dirinya sendiri. Saat jalan-jalan ke luar negeri, saya memperhatikan Mama selalu sibuk memilihkan pakaian untuk Myrni, Santi, dan Andika — jarang sekali saya lihat Mama belanja untuk dirinya sendiri. Mama selalu terlihat cantik alami dengan penampilan yang sangat bersahaja.

Karena Mama adalah orang yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, Mama lebih banyak memberi contoh melalui tindakan, bukan dengan kata-kata.

Kami sangat mencintai Mama, dan akan sangat merindukan Mama lebih dari apa yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Wanita Kuat dalam Kelembutan

Tidak semua kekuatan hadir dengan suara lantang atau kepalan tangan. Ada kekuatan yang tumbuh dalam wujud kelembutan, kesabaran, dan kasih yang tak pernah senyap. Bagi kami, kekuatan itu adalah Mama.

Yang sangat membekas di ingatan saya adalah cerita masa kecil beliau. Setelah kehilangan sosok ayahnya ketika masih sangat muda, Mama harus melewati masa-masa sulit bersama ibu dan dua adiknya yang masih kecil. Pada masa itu, ibunda beliau dan adik perempuannya pernah berkelahi menghadapi tiga laki-laki demi mempertahankan sawah mereka. Dari ibunya itulah Mama mewarisi sifat yang sangat menjaga dan melindungi anak-anaknya.

Mama adalah wanita yang tak pernah lelah dari pagi sampai malam mengurus keluarganya, rela mengorbankan keinginannya demi melihat kebahagiaan anak-anak dan cucu-cucunya.

Satu hal yang saya amati tentang Mama: beliau adalah pribadi yang jauh dari kata sombong. Inilah alasan utama mengapa Mama selalu berhasil membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya.

Melihat kembali perjalanan hidupnya, bagi saya Mama telah menyelesaikan tugas hidupnya dengan sangat baik. Semoga setiap tetes keringat dan air mata yang Mama keluarkan dalam membesarkan kami selalu menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus.

Mama, selamat beristirahat dengan tenang. Kami sangat merindukan dan mencintaimu.

I remember being a young girl, maybe six or seven, having friends over, pretending to be explorers. We crawled under the dining table imagining it was a cave, and Mama — in the midst of all the things she had to do to run a household with five children — decided to pitch in. She brought out her collection of tablecloths and draped them over the table, covered the floor with a woven mat, set out cushions. And once we settled inside, she sent in snacks.

I remember reading those Enid Blyton books where they were always talking about tea time. She asked what the books said and what food I wanted. She brought out the teapot with its matching cups and saucers, kept in a box on the top shelf of the pantry. I remember how fancy it all seemed, and how game Mama was about this foreign tradition I got out of a book.

And I remember as a teenager, when I would obsessively watch music videos. One evening she stopped to see what I was watching. She pulled up a chair and watched them with me for a good while. Maybe she enjoyed the music, maybe she didn’t. But I think she understood what it meant for me to share this with her, and so she stayed.

She never did need a lot of words, even with strangers. I think about her telling me about a woman she once met while waiting alone somewhere abroad — neither of them spoke much English, yet they told each other how many children, how many grandchildren. She was quite proud, I think, and also full of happiness. I remember she was radiant.

Aku tinggal bersama Mama selama 23 tahun. Karena beda umurku dengan kakak-kakak cukup jauh, mungkin hampir setengah dari masa itu aku sendirian di rumah bersama Mama. Karena itulah aku sangat dekat dengan Mama.

Mama yang mengantar dan menjemputku ke sekolah, ke les bahasa Inggris, ke kolam renang. Mama yang menemaniku belajar. Mama yang mengajakku belanja — ke Cihapit, Setiabudhi, atau Gelael.

Kami jarang jajan di luar. Tapi biasanya, setiap selesai berenang, kami makan siomay di Borobudur, atau bitterballen di Bumi Sangkuriang. Kenangan-kenangan sederhana seperti itulah yang sekarang terasa begitu berharga.

Mama juga rajin mengaji. Biasanya Mama memakai mukena putih dengan sarung hijau, memasang kaset, lalu mengikuti bacaan itu sambil membaca Al-Quran besar milik kami di rumah, duduk di lantai kamar yang waktu itu masih beralas karpet merah muda. Sampai sekarang, bayangan Mama duduk mengaji seperti itu masih jelas dalam ingatanku.

Setelah pindah ke luar negeri pada tahun 2005, kami biasanya hanya bertemu setahun sekali. Terakhir kali aku bersama Mama dalam waktu yang lama adalah ketika Jusuf lahir pada tahun 2010 — Mama tinggal bersama kami di Beijing selama tiga bulan.

Selamat jalan, Mama. Terima kasih untuk semua kasih sayang, kesabaran, dan doa-doa yang menemaniku sepanjang hidup. Semoga Allah menerima semua amal ibadah Mama dan melapangkan tempat Mama di sisi-Nya.

3 tulisan

Menantu

Saya mulai mengenal Mama sekitar tahun 82, saat awal berkenalan dengan Jenny karena sekolah bersama di Fakultas Ekonomi UNPAD Bandung. Mama orangnya pendiam, tidak banyak bicara tapi sangat penuh perhatian. Hampir setiap saat ada kegiatan belajar bersama di rumah Cipunegara 23, selalu tersedia makanan dan minuman.

Untuk makan malam Mama selalu menunggu Ayah pulang dari praktek. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai kami mempunyai anak, Armand dan Diandra. Mama selalu menyempatkan diri menyediakan makanan kesukaan Armand dan Diandra, spaghetti dengan bola daging — kebiasaan yang terus dilakukan sampai anak-anak menginjak usia dewasa.

Mama adalah sosok pekerja di balik panggung, yang bekerja tanpa perlu perhatian ataupun pujian. Tidak pernah saya melihat Mama mengharapkan ucapan terima kasih. Mama bekerja memenuhi kebutuhan Ayah dan anak-anaknya dengan sepenuh hati, ikhlas dan sama sekali tanpa banyak bicara.

Keikhlasan Mama melayani keluarga ini yang menurut saya perlu diteladani oleh kita semua. Mama bagaikan Bulan Purnama yang selalu menerangi keluarganya dalam keheningan dan kelembutan, tanpa perlu mengeluarkan suara yang keras. Semoga Mama mendapatkan kedamaian serta kemuliaan di sisi Allah yang Maha Pengasih. Amiin Ya Robbal Alamiin.

Mama adalah orang yang tidak banyak bicara, lebih sering mendengarkan saat orang lain bercerita, dan selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Di wajah Mama hampir selalu ada senyum yang tulus dan tawa yang lepas. Sesekali Mama melontarkan candaan dalam bahasa Padang, yang kadang saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti — namun justru itulah yang membuat suasana di meja makan menjadi hangat dan penuh tawa.

Salah satu kenangan yang paling membekas adalah bagaimana Mama selalu hadir saat ketiga anak kami lahir. Semua itu dilakukan tanpa pernah mengharapkan balasan.

Hal lain yang tidak akan pernah saya lupakan adalah masakan Mama. Mama selalu memasak dengan sepenuh hati dan menggunakan bahan-bahan terbaik. Bagi saya, masakan Mama tidak akan bisa digantikan oleh restoran mana pun. Yang paling saya rindukan tentu saja Sate Padang buatannya, dengan potongan daging dan lidah yang besar serta kuahnya yang khas dengan taburan bawang goreng yang “crispy”.

Mama telah meninggalkan teladan yang sangat berharga: hidup dengan rendah hati, tidak banyak bicara, tapi selalu berbuat baik dengan penuh ketulusan. Itulah warisan paling berharga yang Mama tinggalkan, dan akan terus kami kenang selamanya.

Sudah lebih dari 100 hari Mama berpulang, namun rasa kehilangan ini masih sedalam saat pertama kali kami mendengar kabar itu. Pulang ke Cipunagara kini terasa sangat berbeda tanpa kehadiran, kehangatan, dan senyum jahil Mama.

Rumah Cipunagara menjadi saksi betapa generous dan tanpa pamrihnya Mama. Mama selalu membuka pintu rumah untuk sanak saudara yang bersekolah di Bandung. Di tengah kesibukan menjadi host mom, Mama masih sempat menjahit set seprei, bed cover, hingga gaun dan rok cantik untuk dijual. Mama mendedikasikan seluruh hidup — setiap tenaga, kasih sayang, dan uluran tangan — untuk anak, cucu, hingga cicit, tanpa pernah meminta balasan apa pun.

Saat saya hamil dan menyambut kehadiran Jusuf, Mama hadir selama tiga bulan penuh untuk merawat kami. Di masa-masa ketika saya merasa begitu vulnerable sebagai ibu baru, Mama selalu hadir dalam senyap — tanpa pernah menghakimi, hanya memberi rasa aman.

Mama tak pernah membiarkan kami melangkah sendirian. Ke mana pun langkah kami berpindah rumah, Mama selalu ada untuk menemani, menguatkan di setiap fase kehidupan keluarga kami.

Terima kasih, Mama, untuk setiap teladan, kebaikan, dan cinta tanpa syarat yang telah diberikan. Kasih sayang Mama adalah warisan paling berharga yang akan selalu kami jaga.

8 tulisan

Cucu-cucu

The first thing that comes to mind when I think of you is White Rabbit candy. You would always bring them whenever you came to visit. Your visits always felt like cheat days, because those were the days I got the most candy. And foot massages.

The second thing I remember is your spaghetti, which I would always look forward to at our Eid celebrations. The third is your sate padang. I always bragged to everyone that yours is the best sate padang we ever ate. We tried making it, but it turned out tough and we burnt through a plastic table trying to light the charcoal. The Minang dishes made me feel connected, however briefly, to a part of my heritage I otherwise had no connection to.

The fourth thing I remember is when you stopped cooking. Yet you still made jokes, laughed and put smiles on our faces. You may not have remembered your complex recipes, but you still remembered the sweetness of life and relived its memories with us at the dinner table.

You never seemed to get upset, or yell, or judge me when I am being weird. The unconditional love you gave me is probably why I would end up turning to your spaghetti recipe for comfort whenever I was feeling homesick at university, or stocking up on White Rabbit candies at home.

Your lifelong dedication to building for your family is a source of inspiration for me. Now that I have a family of my own, I hope I can be just as committed, compassionate and comedic as you. I love you Andung.

When I was just a baby, she lovingly cared for me in Indonesia while my parents were working in the United States. Even though I was too young to remember those days, I grew up knowing I was deeply loved because of her.

I remember the delicious meals she would prepare with so much love and generosity. I also remember her singing me to sleep, a simple act that reflected the gentleness she brought into the lives of those she loved.

She flew halfway across the world to celebrate my university graduation, stood beside me on my wedding day, and later had the joy of meeting my daughter. She always chose to be present for the milestones that mattered most.

When I think of Andung, I think of her warmth, kindness, and unwavering care. While we cannot control when the people we love leave us, I feel incredibly blessed and grateful for every time she chose to love me, support me, and show up for me. Those are the memories I will carry with me always.

As my parents were busy during my early childhood, Andung raised me for the first few years of my life, and she did so with endless love and patience. Every night before bed she would play with me to help me fall asleep. She accompanied me to kindergarten every day when I was too afraid or unwilling to go by myself — yet she never showed frustration or anger toward me.

One memory that has always stayed with me was during a family trip to Istanbul. While everyone else went sightseeing, I didn’t want to go. Andung kept me company on a park bench by the river, and wrapped me in her shawl to keep me warm, even though she must have been cold herself.

Her unconditional love and support gave me the space to learn, grow, and become my own person. Seeing the way others have been affected by Andung’s passing — she left this world having touched the hearts of so many people, who continue to cherish her memory and carry her love with them.

If there is one final thing I could say to her, it would simply be, thank you. Thank you for being part of my happiest memories, even if it was only for a little while.

Andung has always been very patient and loving, especially towards her grandchildren. She has a fun sense of humor and a playfulness that makes her seem young at heart. I would joke around with her a lot when I was a kid, and she would always go along, no matter how silly.

One of my favorite memories is eating her food. I still crave her nasi bola-bola with salmon, and to this day I make something similar with rice and seaweed, which always brings me comfort.

I appreciate Andung always taking the time to spend time with me, Zivan, and Zane. She would always make sure to play and joke with us every time we visited. Andung taught me that love is shown in the simplest moments: through laughter and time well spent together. I hope to carry that same joy and comfort to the people I love, just like she did for us.

I have never lived in Indonesia, so I only saw Andung a few times a year. Yet I never felt far from her. She was there in the hospital room a few days after I was born, holding me by the window.

What I do remember are small things. Watering the plants in her garden while she stood behind me. Riding the train with her in Europe while Angku fell asleep beside her. Playing with my superhero figures at her table while she pressed her cheek against mine and made a funny face. I stayed completely focused on my toys. I wish I had turned around.

And the summer she and Angku came to Luxembourg, and we drove to Strasbourg together. It was just the four of us in a small boat on the canal, my dad wearing the audio guide, Andung sitting at the front. At the time, I didn’t think anything was extraordinary. But she had flown across the world, at her age, to spend an afternoon on a river with us. And now I know it wasn’t ordinary at all.

Our family is spread across the world, and she was the one who kept pulling us back together. Thank you, Andung, for always coming. I will always cherish your smile, your laughter, and I’m sorry I didn’t turn around more often.

When I think about her, I remember how she liked to joke around. Sometimes I would tease her and ask funny questions, and she would play along and pretend she did not know what I was talking about. She always made us laugh.

Andung was also quiet sometimes, but she had a particular way of making people feel comfortable. Whenever we visited Andung and Angku’s house, she helped make the mood lighter and happier just by being there.

Sometimes when we go to Andung’s house now, I look at the chair where she used to sit. The chair is empty, but in my mind I can still see Andung there. I can almost hear her voice and remember her smile. It makes me sad that she is gone, but it also makes me happy because I have those memories.

I am thankful that she was my grandma. I am thankful for the laughs, the jokes, and the happy times we shared. I love you, Andung.

Though I knew Andung only briefly, and during the twilight of her life, I was so blessed to see the world that she had built around her — through her granddaughter, through her oldest daughter, and through her whole family.

I will never forget the love and care I felt entering the Rivai family. That a family would so willingly welcome someone of a different background and faith is, I think, a testament to her. Despite Andung’s humble beginnings, her family have really become some of the most ambitious and capable people I am lucky to have joined.

Of the precious times I spent with Andung, she was always trying her best to make me laugh, to make me feel like part of the family. I hope that in the few years I have known her, she knew the happiness she has cultivated in her family and community.

Blessed to Call You Andung

“Andung dan Angku itu sebutan Opa dan Oma lo ya, Mand? I’ve never heard people call their grannies that.” — pernyataan luguku saat dengar Armand cerita tentang keluarganya di Bandung. Sebagai anak Indonesia Timur, sebutan itu asing sekali di telingaku. “Oh iya, tapi Andung itu Nenek, Angku itu Kakek — kan gua orang Minang,” jawabnya bangga.

Sepenggal interaksi inilah memori pertamaku tentang Andung dan Angku, yang di awal selalu kulabeli di kepala dengan “Andung yang mengandung, Angku yang memangku” — agar tidak tertukar saat menyapa mereka. Saat akhirnya bertemu Andung pun kesanku terhadap beliau seperti itu: sosok Ibu yang tenang dan mengayomi.

Aura Andung selalu didukung cerita betapa berbakatnya Andung memasak beragam masakan (Padang dan non-Padang), dedikasi Andung mendukung kesibukan Angku sedari belum-sedang-hingga pensiun menjadi dokter anak bereputasi di Bandung, membesarkan lima anak hingga menemani lima cucu pula. Berdasarkan telusuran, kata Andung memang mengacu pada garis matrilineal Padang — simbol kelembutan dan kasih sayang. Buatku, memang itulah presensi Andung Justina: kelembutan dan kasih sayang.

Terima kasih Andung, sudah mengasihi aku si Anak Timur ini dengan hangat di dalam keluarga besar Minang Andung, melalui Armand — cucu pertama yang juga Andung berikan namanya. Aku belajar banyak tentang budaya Minang bukan cuma dari darah Andung dan Angku yang turun ke Armand, tapi juga dari warisan budaya, pola hidup, dan kisah Andung & Angku. I am blessed I got the chance to call you Andung. Love, J.J.

14 tulisan

Keponakan & kerabat

Kesan pertama: kecantikan wajahnya, anggun dan lembut. Almarhumah termasuk tipe pendiam, namun lewat senyuman dan sorot matanya tergambar keramahan yang tulus. Beliau tidak membedakan strata; semua sama di matanya. Istimewa — kecantikan lahir dan batinnya.

Menjadi motivasi kami: setiap melihat tante Jus & om Rivai, bagi kami adalah pasangan yang “paling romantis”, sekaligus mengingatkan pada film Habibie & Ainun.

Kenangan kami dua tahun terakhir: saat menginap di rumah om Rivai & tante Jus di jl. Cipunegara, saat sarapan tante Jus dan om Rivai kerap bercanda saling meledek, lucu dan senang kami melihatnya. Om Rivai telaten memberikan buah pir kesukaan tante Jus dan beberapa obat yang rutin diminum. Posisi duduk selalu sama. Kecerian dan kebahagiaan itu tetap sama — romantis itu tetap tergambarkan.

Pelajaran hidup dan warisan yang ditinggalkan tante Justina Rivai kepada keluarga dan kami: bahwa di balik karakter seorang perempuan yang lemah lembut, cerdas, dan berhati mulia, ada sebuah kekuatan dan ketegasan sikap tanpa perlu mengeluarkan banyak kata-kata.

Kenangan bersama Tante Jus yang selalu teringat adalah waktu kami masih kecil. Waktu itu hampir setiap bulan puasa (pada saat itu liburan sekolah adalah pada bulan puasa) kami ke Bandung.

Tante Jus mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat, termasuk mempersiapkan baju baru Lebaran. Beliau tidak hanya mempersiapkan baju Lebaran buat anak-anaknya saja, tapi juga buat kemenakan-kemenakan beliau. Itu salah satu yang sangat berkesan bagi saya.

Tante Justina adalah istri dari paman saya, dr. Abdul Rivai — Mak Etek, paman yang paling kecil. Sewaktu kecil saya tinggal di kota Padang; kalau libur sekolah, saya dengan adik dan kakak sering pergi liburan ke Bandung dan tinggal di rumah beliau.

Suatu hari sewaktu liburan di Bandung, mungkin sekitar tahun 1975 atau 1976, saya sakit demam dan tidak dapat bermain dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Tante Jus-lah yang merawat saya sehingga saya sembuh. Kebaikan dan ketulusan beliau, serta senyum ramahnya, merupakan hal yang tidak terlupakan bagi saya.

Lebaran di Bandung sangatlah meriah karena Mak Etek dan Tante Jus kedatangan tamu yang sangat banyak. Makanan juga berlimpah — semuanya enak. Salah satu masakan beliau yang paling enak adalah rendang.

Di hari tuanya Tante Jus tetap terlihat cantik, modis, dan selalu tersenyum ceria. Pertemuan terakhir saya dengan tante Jus adalah di saat hari Raya Idul Fitri 2026 — walaupun terlihat agak letih, keceriaan dan canda beliau seakan tidak pernah hilang. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal ibadah beliau.

Kenangan indah tentang tante Djus dimulai pada usia 3–4 tahun, saat kami sering berkunjung ke rumahnya di Buah Batu. Setiap berkunjung, sambutan tante Djus sangat ramah, baik hati, dan menyenangkan — sehingga kunjungan ke rumah tante Djus adalah saat yang sangat dinanti-nanti.

Pada saat kami SD, tante Djus suka membawa kami jalan-jalan dalam kota maupun luar kota. Kami seumuran dengan putri-putri tante Djus, Jenny dan Wati, dan pada saat berjalan-jalan kami selalu diperlakukan seperti anaknya sendiri. Jika diajak pergi ke Bumi Sangkuriang, biasanya sudah tersedia minuman green spot yang disimpan di bagasi mobil di dalam cooler box.

Kami juga sering diajak pergi jalan-jalan ke Jakarta, biasanya bersama-sama menginap di hotel Hilton, dan diajak ke Ratu Plaza — terutama ke toko buku.

Tante Djus adalah seorang yang sangat rajin dan tekun: rajin sekali membuat baju anak-anak dan juga masakan. Yang paling berkesan makanannya adalah sate padang, rendang, tapai lamang, dan masakan ayam. Kami sering minta diajarkan bagaimana cara memasaknya.

Menurut kami, tante Djus itu lembut sekali tetapi di sisi lain tegas. Kedua sifat itu menyatu dengan sangat pas. Yang muncul di hati kami adalah tante Djus yang ramah, baik, dan sangat lembut. Selamat jalan tante Djus — kami di sini hanya bisa mendoakan.

Cindy: Bagi saya, Tante Jus adalah sosok yang hangat, penuh kasih sayang, dan selalu membuat siapa pun merasa diterima. Setiap kali bertemu, beliau menyambut saya dengan senyum tulus dan pelukan hangat, layaknya pelukan seorang ibu. Saya juga akan selalu mengenang masakan Tante Jus — setiap hidangan terasa istimewa, bukan hanya karena kelezatannya, tetapi juga karena dibuat dengan penuh cinta.

Adhi: Saya pertama kali bertemu Tante Jus saat berkunjung ke Bandung untuk berkenalan dengan keluarga Mak Etek Rivai. Beliau menjemput kami sendiri di Stasiun Bandung dan menyambut kami dengan senyum, keramahan, serta perhatian yang membuat saya — meski baru pertama kali bertemu — merasa diterima sebagai bagian dari keluarga.

Ketika saya baru pindah ke Jerman dan masih tinggal sendiri sebelum keluarga menyusul, Mak Etek Rivai dan Tante Jus datang berkunjung. Tante Jus memberi banyak nasihat dan semangat agar saya tekun bekerja, tabah menjalani kehidupan baru, serta tetap menjaga hubungan dengan keluarga di Tanah Air. Foto kami berdua masih saya simpan hingga hari ini sebagai kenangan yang sangat berarti.

Kepergian Tante Jus meninggalkan duka yang mendalam bagi kami sekeluarga. Namun kebaikan, kasih sayang, dan perhatian yang beliau berikan akan terus hidup dalam kenangan kami. — Adhi, Cindy, Dandy, dan Putri · Dresden, Jerman, 2026

Saya mengenal Alm. Tante Jus dari kecil karena sering diajak Alm. Papa dan Almh. Mama ke Cipunagara, sejak umur saya 3 tahun sekitar 1976. Ingatan saya: pernah tinggal sekitar satu bulan tahun 1992 menjelang UMPTN di Cipunagara Bandung. Tante Jus ramah dan rajin masak semua makanan di rumah. Kami selalu menunggu panggilan makan — dendeng kering balado, ayam balado, sup, dan lainnya.

Teringat saat Alm. Papa (1993) dan Almh. Mama (1999) sakit dan meninggal, Almh. Tante Jus bersama Mak Etek selalu datang di saat-saat kami kakak beradik mengalami kesedihan yang cukup dalam, sehingga membuat kami cukup tabah menghadapi ketentuan dari Allah SWT. Banyak bantuan yang kami terima, baik moril dan materil.

Awal Januari 2003, lamaran saya dengan istri saya Finny di rumah Cipunagara no. 23 — Almh. Tante Jus dan Mak Etek berperan besar dan berjasa dalam proses lamaran dan pernikahan saya di Bandung. Sulit saya gambarkan betapa besar jasa beliau berdua dalam kehidupan saya.

Bahkan sampai saat ini kami menitipkan anak kami Salma Latifah saat koas di Bandung. Terakhir, Almh. sering bercanda ke anak saya Salma. Terima kasih Tante Jus — selamat jalan, semoga Allah mengampuni segala dosa dan menempatkan di surga Allah yang indah.

Saya Ivonny, keponakan yang saat muda punya orang tua yang sakit-sakitan dan meninggal saat kami masih muda — sehingga saya sekolah SMA di Bandung selama 3 tahun dan tinggal di Cipunagara. Tante Jus menggantikan Mama saya saat ambil rapot. Waktu awal SMA itu rapot yang saya terima tidak bagus, tapi Tante tetap senyum tenang mendengar guru menasehati. Saya jadi malu — tapi karena Tante tidak marah, itu jadi spirit buat saya untuk lebih bagus nilainya.

Saat kelulusan SMA saya, Ayah saya pun sakit berat dan meninggal dunia, dan Tante pulalah yang menemani saya hadir ke kelulusan. Tante menyiapkan pakaian wisuda sampai memikirkan bagaimana berdandan ke salon.

Bahkan saat saya menikah — orang tua saya sudah meninggal dunia keduanya — saat itu hanya Tante Jus yang menyiapkan kamar pengantin saya, perlengkapan sampai baju pengantin. Subhanallah, Tante Jus banyak menggantikan peran orang tua kami di saat-saat yang seharusnya ada orang tua mendampingi.

Budi baik Tante mungkin tidak dapat saya balaskan, tapi semoga menjadi amal ibadah baik Tante. Semoga Tante husnul khatimah — dan menjadi pemahaman saya bahwa beliau menjadi penerang buat keluarganya.

Vivi keponakan Tante Justina dan Om Rivai yang selama 10 tahun tinggal di rumah tante di Cipunegara, Bandung, saat Vivi kuliah dan bekerja (1995–2005). Sangat merasakan kehilangan sejak Tante Justina berpulang 11 Mei 2026 lalu.

Selama di Bandung, Vivi melihat Tante Justina sebagai seorang ibu yang mandiri, baik hati, kuat, dan lembut. Vivi senang melihat Tante memasak masakan Minang, dan Vivi ikut belajar masak juga. Saat Vivi lagi masa sulit menghadapi masalah pribadi, Vivi sering diajak bicara dari hati ke hati untuk mencari solusi jalan keluarnya. Tante juga sabar menghadapi kenakalan Vivi yang saat itu masih remaja.

Saat Vivi mau menikah, Tante Justina menolong Vivi menyiapkan barang seperti karpet yang banyak, perlengkapan dan pakaian untuk pernikahan. Tante sudah seperti ibu bagi Vivi sendiri selama tinggal di Bandung.

Vivi tidak bisa membalas kebaikan Tante Justina dan Om Rivai. Vivi hanya bisa berdoa untuk Tante, agar Allah SWT melapangkan jalan-Nya dan menerima semua amal kebaikan Tante selama beliau masih hidup. Semoga kebaikan beliau dicatat sebagai amal jariah yang akan terus mengalir. Aamiin YRA. — Salam sayang, dari Vivi

Vinky mengenal Tante Jus sejak masih kecil waktu liburan ke Bandung — keingat di sana biasanya setiap kamar selalu rapih dan barang-barang disusun oleh Tante dengan rapih; kalau libur hari raya Idul Fitri ada kastengel di setiap kamar. Vinky kemudian tinggal di sana sejak SMA sampai kerja, dari tahun 1993 sampai 2000.

Tante Jus selalu baik, ramah, rajin, dan suka bantuin — mengantar Vinky pakai mobil ke sekolah tanpa pamrih, khususnya pas ambil rapot. Ketika pembagian rapot walau nilai Vinky kurang baik, Tante selalu baik dan mendukung, percaya ke Vinky sehingga membuat yakin kalau Vinky bisa lebih baik.

Ketika waktu makan yang ditunggu, Vinky suka dipanggil Tante untuk makan — makanan banyak sekali: rendang, dendeng, ayam, pepaya pakai susu murni dan madu. Tapi ada satu yang paling disuka: ayam cabe hijau. Sampai keingat terus, Tante pernah buatin khusus buat Vinky ayam cabe hijau karena tahu Vinky suka itu.

Banyak pelajaran yang Vinky ambil dari Tante Jus, yaitu kesabaran, rajin, dan melakukan sesuatu tanpa pamrih. Tante seperti ibu sendiri ketika Vinky di Bandung dan ketika mama Vinky sudah tidak ada. Hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang dapat membalas kebaikan Tante Jus dan Om Rivai. — Salam sayang dari keponakan, Vinky

Kenangan Dede tentang Almarhumah Tante Jus dari Dede kecil, awal ketemu di Cipunagara. Setiap Dede ke Bandung waktu kecil, yang paling diingat: masakannya enak banget seperti masakan restoran. Yang paling Dede suka itu rendang buatan Tante Jus.

Tante Jus itu yang Dede lihat sosok yang cantik, anggun dan elegan. Jadi nggak banyak omong tapi baik kesemuanya — jadi inspirasi buat orang yang melihat untuk bisa secantik dan seelegan Tante Jus.

Kalau ke Bandung selalu nggak sabar untuk mencoba masakan Tante Jus. Kami sekeluarga selalu disuguhi makanan enak oleh Tante Jus.

Semoga Tante Jus bahagia di surganya Allah. Terima kasih Tante Jus sudah menginspirasi buat Dede dan setiap orang. Mak Etek dan keluarga pasti bangga memiliki sosok seperti Tante Jus.

Ilham memanggil beliau dengan sebutan Mak tua/Mak uwo (bahasa Selayo), karena beliau adalah kakak paling tertua dari papa yang di tuakan di rumah gadang. Mak tuo/Mak uwo adalah seorang ibu yang sangat mempunyai peran penting dalam keluarga; beliau mempunyai integritas tinggi dan sangat bertanggung jawab sama keluarga.

Sosok beliau sangat kami banggakan. Kehadiran beliau sangat kami tunggu-tunggu di Selayo. Waktu kami kecil, betapa bahagianya kami begitu mendengar kabar bahwa Mak uwo pulang ke Selayo — rasa hangat terharu saat kami pergi menjemput beliau ke Bandara Tabiang di kota Padang. Yang paling ditunggu itu adalah oleh-oleh dari makanan, baju, mainan-mainan yang selalu beliau bawakan. Mak uwo juga selalu mengirimkan baju lebaran ke Selayo tiap kali Lebaran pada kami.

Mungkin ini baru sedikit cerita kami; banyak kenangan bersama Mak uwo yang tidak bisa diceritakan. Beliau adalah sosok ibu yang tegas dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Selamat jalan Mak uwo, kami akan selalu mendoakan Mak uwo.

Mak Tuo adalah sosok yang penuh kasih sayang, sabar, dan selalu mengutamakan keluarga. Beliau memiliki cara sederhana untuk menunjukkan cinta, sehingga kehadirannya selalu membawa rasa nyaman bagi kami. Kenangan yang paling berkesan adalah momen Mak Tuo pulang ke Selayo — beliau selalu membawakan oleh-oleh cokelat Toblerone untuk kami; saat makan bersama beliau selalu memberi perhatian kecil yang membuat kami merasa dicintai.

Dari Mak Tuo, saya belajar tentang kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur. Nasihat beliau untuk selalu menjadi orang baik, menghargai sesama, dan tidak mudah menyerah masih saya pegang hingga sekarang. Beliau memberikan pengaruh besar dalam membentuk karakter saya.

Warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukanlah harta, melainkan teladan hidup yang penuh kasih dan ketulusan. Nilai-nilai itu akan terus kami jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya. Setiap kali mengingat masakan, doa, senyum, dan perhatian beliau, saya sadar bahwa cinta yang tulus tidak pernah benar-benar hilang.

Saya dan adik-adik — Dhea, Gampo, dan Ayu — semua dititipkan Mama dan Bapak di rumah Patuo dan Matuo saat SMA di Bandung, karena Bapak bertugas berpindah-pindah. Kenangan saya atas Almarhumah Matuo adalah Matuo selalu terlihat cantik, tersenyum, dan jago sekali masak.

Matuo selalu terlihat muda di mata saya — sederhana namun elegan, sehari-hari menggunakan kemeja dan jeans. Matuo juga selalu menjaga kesehatan dengan senam Jane Fonda di pagi hari dan menjaga makanan (Matuo tidak pernah makan nasi di malam hari). Beliau adalah salah satu inspirasi saya untuk menjadi perempuan yang selalu bisa menjaga dirinya di masa depan.

Matuo juga ceria, apalagi kalau nonton bola — teriak bahagianya menggema seantero rumah kalau ada gol. Perhatiannya pun penuh pada kami keponakan-keponakan beliau; beliau bahkan pernah menemani saya tidur di kamar saat saya sedang ketakutan tidur sendiri.

Tapi tentunya yang juga paling teringat adalah masakan Matuo. Favorit saya daging belado Matuo, juga es ketimun saat bulan Ramadhan. Sampai saat ini saya selalu membuat es ketimun ala Matuo setiap bulan Ramadhan. Terima kasih, Matuo, sudah menjadi inspirasi bagi saya dan adik-adik. Sampai ketemu lagi Matuo di surga Allah SWT. Aamiin YRA.

Seingat kami, pertama kali mengenal Uni Jus ketika Uni Jus pindah ke Bandung bersama Bung Rivai. Kami suka mengadakan kegiatan bersama — antara lain main tenis meja sampai tengah malam — layaknya keluarga. Pertama kali kami terkesan: seakan kami bertemu dengan Bundo Kanduang yang sebenarnya. Uni Jus berhati lembut; bicara dan ucapannya pun selalu lemah lembut, selalu bersikap tenang, ramah, dan perhatian terhadap siapa pun.

Yang paling kami ingat: ketika itu saya sedang dinas di luar negeri, terjadi kecelakaan yang menimpa anak ketiga kami — kelas 3 SD, ditabrak sepeda dari belakang, jatuh ke jalan aspal, luka berdarah di bagian mukanya, hidung berdarah dan empat gigi depannya hampir tanggal. Dengan bantuan tetangga kami membawanya ke IGD RS Borromeus. Lalu Uni Jus tiba untuk membantu kami, mengurus sampai selesai pengobatan — dan dengan menyetir sendiri Mercedes Bung Rivai yang terkenal itu, mengantar kami pulang ke rumah.

Esok harinya Uni Jus menjemput-antar kami, menyetir sendiri, ke tempat praktek Dr Abdul Rivai di Buah Batu dan kemudian mengantar untuk konsul ke dokter gigi — sekali lagi dengan menyetir sendiri. Begitulah Uni Jus, menjemput dan mengantar kami sampai selesai pengobatan anak kami, atas inisiatif sendiri, tanpa di minta.

Kami hanya bisa mendoakan Uni Jus: semoga semua kebaikan Uni Jus mendapat pahala kebaikan berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin in syaa Allaah.

13 tulisan

Sahabat & tetangga

Saya kenal dengan uni Jus sudah lama sekali. Kami keluarga Muhammad Ansjar dan keluarga dr. Rivai sudah berteman sejak saya baru menikah pada tahun 1969 — suami saya dengan uda Rivai berteman sejak SMA di Padang. Kami juga sama-sama menjadi anggota Bumi Sangkuriang dan anggota arisan MEOK, arisan keluarga Minang di Bandung; hampir setiap bulan kami bertemu.

Saya sangat terkesan dengan uni Jus: kesederhanaan beliau, berpakaian yang selalu elegan, baik hati, suka ketawa walaupun uni Jus agak pendiam. Ada satu lagi kesan dengan almarhumah — kalau lagi makan di restoran selalu pesan makanan sehat, seringnya pesan ikan salmon; bisa steak salmon, pokoknya ikan salmon.

Terakhir saya bertemu, kami ngopi di Noah Barn’s pada bulan September 2025, tentunya dengan uda Rivai yang selalu kemana-mana berdua, tidak terpisahkan. Waktu itu uni Jus kadang-kadang mulai suka agak lupa, tapi saya sangat surprise waktu saya tanya, “Uni masih ingat saya?” Lalu dengan spontan beliau menjawab, “Wirda.” Alangkah senangnya saya — uni Jus yang kami sayang masih ingat ke saya.

Demikian kesan-kesan saya sekilas kepada beliau. Akhir kata yang bisa saya sampaikan: selamat jalan uniku sayang.

Kenangan dari sahabat untuk Zus Djus terkasih. Kuingat jelas… kehangatan tulus, penuh kedamaian, dengan senyum lembut terpancar kasihmu di saat-saat kita saling ngobrol bertemu. Dengan suami, Amancu tercinta, yang tak pernah engkau beda-bedakan — semua terasa damai indah penuh cinta.

Waktu yang Allah berikan dalam kebersamaan di dunia fana… sudah cukup bagi Allah Yang Mahakuasa. Selamat jalan, Sahabat terkasihku yang kubanggakan. Doa terbaik kukirim menyiringi kepulanganmu. Amin.

Pada Desember 1969, saya diantar oleh kedua orang tua dari Padang ke Bandung untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Sejak saat itu saya tinggal bersama keluarga Om Rivai dan Tante Jus di Jalan Buah Batu No. 43. Kehangatan keluarga besar inilah yang menjadi rumah kedua bagi saya selama menempuh pendidikan hingga lulus sebagai dokter pada 1977.

Tante Jus adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara. Hari-harinya dicurahkan sepenuhnya untuk keluarga. Walaupun ada pembantu rumah tangga, urusan makan dan kebutuhan keluarga tetap beliau awasi dengan penuh kasih. Karena pandai menjahit, pakaian anak-anak pun sering beliau jahit sendiri. Bahkan saya nyaris tidak pernah diberi tugas rumah, selain sesekali menjemput Jenni dan Wati dari Sekolah BPI di Jalan Burangrang dengan becak.

Tante Jus jarang bercanda; jika gembira, beliau cukup menunjukkan senyumnya yang hangat. Saya masih ingat beliau pernah tertawa ketika saya menyanyikan lagu anak-anak berbahasa Tamil bercampur Inggris yang saya pelajari saat masa orientasi mahasiswa. Beliau juga memiliki jiwa seni — ketika tinggal di Cipunagara, beliau tekun mengikuti les piano.

Pertemuan terakhir terjadi saat Tante Jus jatuh sakit. Setelah sehari dirawat di rumah sakit, datanglah kabar duka bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah. Kepergian beliau membangkitkan kembali kenangan akan segala kebaikan dan kasih sayang yang saya terima selama menjadi mahasiswa kedokteran di Bandung. Semua itu akan selalu saya kenang dengan penuh syukur.

Ketika saya diterima kuliah di ITB, Ibu saya menghadapi sebuah kenyataan yang tidak mudah: seorang anak yang selama ini berada di dekatnya harus merantau ke kota lain. Namun di saat itu hadirlah sosok yang memberi ketenangan bagi beliau, yaitu Tante Jus dan Om Rivai. Titipan itu bukan sekedar menitipkan tempat tinggal, tetapi menitipkan seorang anak yang sedang belajar mandiri dan mencari masa depannya.

Selama saya tinggal di rumah Tante Jus dan Om Rivai, saya merasakan kasih sayang yang luar biasa. Saya tidak pernah diperlakukan sebagai tamu, dan diterima sebagai bagian dari keluarga. Di tengah kesibukan kuliah yang sering kali melelahkan, rumah Tante Jus dan Om Rivai menjadi tempat saya pulang, beristirahat, dan mendapatkan kehangatan yang mengingatkan pada rumah Ibu saya.

Tante Jus adalah pribadi yang sangat ramah. Senyumnya selalu membuat suasana menjadi hangat. Beliau memiliki cara sederhana namun begitu bermakna dalam menunjukkan perhatian kepada keluarga — selalu memastikan bahwa orang-orang di sekitarnya merasa nyaman dan diperhatikan.

Mereka telah menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi juga tentang kasih sayang dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Selamat jalan Tante Jus. Kebaikan, keramahan, dan kasih sayang Tante akan selalu kami kenang.

Saat saya tinggal di Bandung bersama Uni Jus sekitar tahun 1989–1992, saya melihat sendiri betapa beliau sangat menyayangi tanaman. Halaman rumah selalu tampak asri karena ketelatenan dan kecintaannya pada tanaman.

Suatu sore, saya sedang asyik bermain tenis meja. Karena terlalu bersemangat, tanpa sengaja saya menyenggol salah satu pot bunga. Braaak…! Pot itu pecah dan bunganya berantakan. Saat itu saya sangat ketakutan — dalam pikiran saya, pasti saya akan dimarahi. Namun setelah makan malam, dengan memberanikan diri saya mengakui kejadian tersebut dan meminta maaf kepada Uni Jus. Di luar dugaan, beliau sama sekali tidak marah. Beliau hanya tersenyum dengan wajah yang penuh ketenangan, lalu berkata, "Nanti kita cari gantinya."

Dari kejadian sederhana itu, saya belajar tentang arti memaafkan, ketulusan, dan kasih sayang. Selama kurang lebih dua setengah tahun terakhir, saya berkesempatan mendampingi beliau menjalani kontrol rutin di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Yang paling saya kagumi adalah semangat beliau untuk terus berobat dan berjuang demi kesehatannya — tidak pernah mengeluh ataupun menunjukkan rasa lelah, selalu sabar menjalani setiap proses, dan tetap tersenyum.

Rabu tanggal 22 April 2026 adalah waktu terakhir kami bertemu, dalam rangka menemani ke kantor notaris. Setelah 19 hari berikutnya kami berpisah untuk selama-lamanya. Selamat jalan Uni Jus. Kebaikan, kelembutan hati, dan senyumnya akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Saya bertemu dengan Anduang dan Angku Riva’i pada akhir 1996, ketika pertama kali merantau ke Kota Bandung untuk bekerja sebagai perawat di RS Santo Borromeus. Pertemuan itu menjadi awal dari sebuah hubungan yang, menurut saya, jauh melampaui dari ikatan keluarga.

Saya masih mengingat satu peristiwa pada tahun 1997. Saat itu saya memberanikan diri mengikuti lomba lagu Minang di kampus ITB. Saya tidak memiliki pakaian maupun aksesori yang layak untuk tampil di atas panggung. Keresahan itu saya sampaikan kepada Angku dr. Riva’i. Tanpa banyak bertanya, Anduang meminta saya datang ke kediaman beliau di Cipunagara. Sesampainya di sana, beliau sudah menyiapkan satu set pakaian lengkap: kain songket terbaik berwarna hijau berbenang warna silver dan baju kurung berwarna peach, lengkap dengan kembang goyang hiasan rambut. Tidak ada nasihat panjang — hanya sebuah tindakan sederhana yang membuat saya merasa didukung sepenuh hati.

Namun ada satu kenangan yang selalu membuat saya tersenyum. Setiap Hari Raya Idulfitri, Anduang selalu memasak hidangan khas Minang yang luar biasa lezat. Karena penasaran, saya mengikuti beliau ke dapur sambil terus bertanya tentang resep dan cara memasaknya. Beliau hanya tersenyum tipis, lalu berkata singkat, "Caliak sajo lah." Artinya, lihat saja. Tidak ada resep tertulis. Tidak ada takaran yang dijelaskan. Saya hanya diminta mengamati.

Hari ini, setiap kali orang memuji dendeng kering buatan saya, saya selalu teringat Anduang. Ternyata saya belajar memasak dari seorang guru yang mengajar tanpa banyak kata. Terima kasih, Anduang dan Angku. Semoga segala kebaikan yang telah Anduang dan Angku tanam menjadi amal yang terus mengalir. Al-Fatihah.

Sejak tahun 1999 kami mulai menjadi warga Cipunegara. Kesan pertama ketika bertemu almarhumah Bu Rivai adalah seorang ibu yang menjaga etika, sopan santun, rendah hati, dan ramah. Itu semua tercermin dari tutur kata dan bahasa yang membuat kami nyaman serta merasa diterima sebagai warga baru di Cipunegara.

Almarhumah Bu Rivai juga menunjukkan perhatiannya terhadap organisasi — beliau bersedia memikul tanggung jawab sebagai bendahara RT dengan sangat baik. Sifat almarhumah penuh perhatian dan peduli kepada warga yang mengalami sakit; bahkan pernah kami bersama almarhumah menjenguk warga yang sedang sakit di Jakarta, di mana seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh beliau secara pribadi.

Almarhumah Bu Rivai juga beberapa kali menyediakan tempat kediamannya untuk acara temu warga, seperti rapat, halalbihalal, bahkan hingga pemilihan Ketua RT. Dalam setiap kegiatan RT 04, almarhumah selalu hadir ditemani suami tercinta, Bapak dr. Rivai.

Namun di sisi lain, kami mencatat bahwa almarhumah tidak ingin menyusahkan warga Cipunegara: dikala beliau sedang sakit, tidak ada berita yang terdengar tentang kondisi almarhumah. Kami kehilangan seorang sosok warga yang pantas dijadikan contoh dan panutan.

Senyum Yang Tak Pernah Pudar di Cipunegara

Pertama kali aku bertemu Tante Jus adalah ketika aku dinyatakan diterima di Universitas Padjadjaran, Bandung. Tante Jus dan Om Rivai menyambut kami dengan hangat — seperti menyambut keluarga sendiri. Sejak saat itu, Cipunegara bukan sekadar alamat singgah, melainkan rumah kedua.

Almarhumah Tante Jus adalah salah satu perempuan yang membentuk caraku memandang kehidupan. Di zamannya, beliau adalah ibu rumah tangga modern: setia mengurus keluarga, tetapi tak pernah lupa merawat diri dan menjaga kesehatan dengan olahraga. Tante juga perempuan yang sangat pintar di dapur. Bagiku yang kala itu anak kost dengan menu warung setiap hari, makanan Tante adalah kemewahan tersendiri. Yang paling membekas, yang sampai sekarang masih terkenang di lidah dan di hati, adalah dendeng kering buatannya — garing, gurih, penuh cinta. Aku masih ingat betul, Tante punya buku resep yang selalu dibuka sebelum memutuskan masakan apa yang akan menghiasi meja makan hari itu.

Pada tahun-tahun antara 1991 hingga 1997, rumah itu sering menjadi saksi bisu dari berkumpulnya sanak saudara dari Salayo, dari Solok Sepakat. Ada buka bersama, ada halalbihalal, ada tawa dan doa yang memenuhi ruang-ruang rumah. Dan di setiap peristiwa itu, Tante Jus selalu menyajikan hidangan masakannya sendiri, dengan ikhlas dan tulus.

Namun yang paling istimewa dari almarhumah Tante Jus bukanlah masakannya. Yang paling istimewa adalah keramahan dan kehangatannya yang tulus. Beliau tidak banyak bicara, tapi senyumnya selalu manis, selalu menenangkan. Senyum itulah yang membuatku merasa aman, merasa nyaman, merasa aku punya tempat pulang di kota asing. Tante Jus bukan hanya kerabat. Bagiku, beliau adalah ibuku di Bandung.

Tahun 1995, di tahun ini saya sudah dua kali gagal masuk perguruan tinggi negeri dan juga dua kali gagal masuk AKABRI. Untuk masuk perguruan tinggi swasta tidak memungkinkan buat saya karena ketiadaan biaya. Bapak saya sudah lama meninggal sejak saya kelas lima SD, dan ibu saya seorang janda dengan pekerjaan berjualan kue ondez dan jajanan anak sekolah SD di depan rumah kami.

Kemudian saya datang kepada anduang (dan angku), untuk menumpang tinggal di rumah beliau di jl. Buah Batu No 40 Bandung, karena saya mau ikut bimbingan belajar masuk PTN di thn 1996 — kesempatan terakhir saya untuk bisa kuliah di PTN. Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, anduang (dan juga angku) langsung memberi saya izin untuk numpang tinggal gratis di rumah beliau selama bimbel. Bukan itu saja, beliau juga men-support biaya hidup saya selama di sana.

Alhamdulillah berkat kemurahan beliau berdua dan kuasa Allah, tahun 1996 saya lulus masuk fakultas kedokteran Universitas Andalas Padang. Saat ini sudah 22 tahun lebih saya jadi dokter dan berpraktek mandiri. Setau saya, ada puluhan orang yang sudah pernah menumpang tinggal di rumah anduang dan angku secara bergantian, baik yang di Buah Batu maupun yang di jln. Cipunegara.

Anduang dan angku telah mengajarkan saya tentang kemurahan hati dalam berbagi. Kenapa bisa begitu? Saya rasa jawabannya adalah: karena anduang dan angku punya hati yang bening, yang sangat faham bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan sangat mengerti bahwa menolong orang lain sejatinya adalah menolong diri sendiri.

Etnis Minang dikenal dengan rasa persaudaraannya yang kuat. Karakter menolong "menyeberangkan" diwarisi setiap individu Minang, untuk menolong keluarga dan semua nan badunsanak dalam sistem kekerabatan Minang — termasuk uni Justina, uni Jus begitu beliau dipanggil oleh kami yang berhubungan keluarga lewat uda Rivai.

Pertama kali saya jumpa Uni Jus di masa remaja, diajak ke Bandung oleh uni Nurlaili mentor saya, yang juga adik uda Rivai. Pada waktu itu di Jl Buah Batu, domisili pertama uda Pa’i (sebutan kami rang Salayo buat uda Rivai), bergantianlah rang Salayo ditampung di jl Buah Batu — ada yang mau menyambung sekolah, ada yang cari kerja. Mereka tinggal sementara, dibantu di awal merantau membangun kehidupan baru.

Dan yang sangat berkesan di sini: Uni Jus tiap hari memasak di kediaman beliau di Jl Cipunegara, dan di jam makan siang dikirim ke Jl Buah Batu, tempat pendatang baru rang kampuang dari Salayo berdomisili. Uni Jus yang berpembawaan tenang menjadi mande rang Salayo, bersama da Pa’i menjadi mercu suar komunitas rang kampuang nya di Bandung.

Lima dekade berlalu. Empat anak kami berkeluarga, dan uni Jus yang baik hati dan Uda Pa’i nan elok budi bijaksana pun datang melihat anak-anak kami menikah. Terakhir sowan kami tahun 2023 — kini dengan rambut sudah memutih, uni Jus tetap uni yang sama. Kebaikan beliau, dukungan beliau kepada semua yang pernah tersentuh jangkauannya, tidak akan pernah melupakan uni Jus.

Saya dan istri saya Retno tidak saja dekat, tapi mengagumi pasangan ini. Sejak awal jadi pengurus Taruna Bakti, saya sudah banyak mendengar bahwa ada murid yang terkenal — empat orang dengan kecantikannya, yaitu empat orang putri dari seorang dokter terkenal yaitu dr. Rivai, yang menjadi "The Rose from Taruna Bakti".

Dalam bayangan saya, dr. Rivai pasti seorang pria dengan perawakan tinggi besar gagah dan ganteng. Tapi setelah ketemu dengan orangnya kok biasa-biasa aja ya? Lain halnya pada waktu pertama kali bertemu dengan ibu Justina Rivai: ternyata gen kecantikan putri-putrinya berasal dari ibu. Tidak berlebihan kalau masa mudanya beliau adalah The Rose from Padang. Ibu percaya dengan omongan saya karena saya berani mengucapkannya di depan istri saya, pak Rivai, dan juga di depan teman-teman lain. Kesan saya, ibu selalu happy jika saya menceritakan pengalaman itu.

Ada satu hal yang sangat kami kagumi: hubungan mereka pada akhir hidup Ibu — beliau begitu lengket, hampir tidak terpisah semenit pun dengan Pak Rivai. Sebagai sahabat sering saya ingat pak Rivai untuk jaga kesehatan. Beliau mendampingi ibu sampai akhir hayatnya. Rupanya Tuhan mengabulkan doa saya bahwa Ibu harus "jalan" lebih dahulu.

23 tahun yang lalu adalah momen di mana pertama kali saya bertemu dengan Mak Tuo dan Pak Tuo, ketika saya melanjutkan studi di Jatinangor. Sebelum berangkat ke pulau Jawa, almarhum Bapak dititipi pesan oleh saudara di kampung untuk membawa saya ke rumah Mak Tuo dan Pak Tuo, menyambung tali silaturahmi. "Kak Upik" begitu panggilan akrab beliau di pihak keluarga kami. Jika ditilik dari hubungan darah dan kekerabatan Minangkabau, antara saya dan Mak Tuo begitu jauh jaraknya. Namun, jauhnya jarak hubungan kekerabatan bukan berarti jauh pula jarak hati. Justru sebaliknya.

Ketika saya dan almarhum Bapak datang berkunjung, Mak Tuo sedang berkebun di halaman belakang rumah C23 yang penuh dengan bunga mawar berwarna merah dan pink. Beliau menyambut saya dan almarhum Bapak dengan senyum dan menyuguhkan kami teh hangat. Hangatnya sambutan beliau sudah dapat dirasakan oleh saya dan Bapak — yang belum pernah bertemu dan boleh dibilang sangat jarang bertemu beliau.

Sempat ada jeda saya berkunjung ke Cipunegara. Ada kekhawatiran di hati saya: bagaimana jika nanti beliau bertanya mengapa saya sudah lama tidak berkunjung? Namun apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Bahkan sebaliknya — ketika saya tiba di Cipunegara, menyapa dan mengulurkan tangan untuk salim, beliau malah memeluk saya. Sejak saat itu, saya menyadari bahwa beliau memiliki bahasa kasih yang ditunjukkan dengan tindakan, tidak dengan kata-kata.

Banyak legacy yang beliau tinggalkan bagi keluarga, sanak famili, kerabat dan sahabat. Bagi saya di antaranya adalah devotion, compassion, set a real-life example through actions, dan strong determination. Terima kasih banyak untuk semua kasih sayang tulus dan tidak pernah putus; sudah mengizinkan Sari tinggal di Cipunegara (disebut almarhum Bapak sebagai pusdiklat); untuk kepercayaan yang Mak Tuo, Pak Tuo, dan keluarga berikan ketika Sari berada di titik terendah kehidupan; dan sudah mengantarkan Sari bisa mencapai titik ini. Sari rindu Mak Tuo. Doa kami selalu menyertai Mak Tuo.

Selamat jalan menuju Rabb-mu, seorang ibu yang baik, yang pernah saya kenal dengan panggilan Etek. Almarhumah seorang ibu teladan karena anggun, calm, bijaksana dan sangat mahir semua pekerjaan wanita: memasak, menjahit, merenda dan lain-lainnya.

Dan selalu tersenyum kalau ketemu saya — mungkin ada kata-kata saya yang lucu. Etek pegang dagu saya sambil berucap "anak hasan", sambil beliau tersenyum ciri khas beliau. Cara berpakaian beliau mirip dengan saya karena saya suka dengan renda-renda Eropa, seperti renda dari Belgia.

Pertemuan terakhir dengan etek pada tanggal 14 April 2026 di Restoran Simpang Raya Ps. Minggu, pertemuan Kulik2 Alang. Beliau sebelum pamit pulang minta ditemani ke toilet. Saya antar, dan beliau bilang, "Pipel… tidak ada tisu…" lalu saya memberi tisu. Dan saya mengantar beliau ke mobil untuk pulang berdua dengan bapak. Ternyata itulah pertemuan dan perpisahan terakhir saya dengan almarhumah.

Ibu yang selalu berada di samping bapak kemana pun pergi, sampai Allah memanggil. Kami selalu mengenangmu, mom. Maaf, ananda Pipelloni Hasan.

1 tulisan

Yang merawat

Saya mulai merawat Andung dan Angku di Bandung sejak bulan September 2022. Saat itu Andung sudah mulai sering lupa dengan kejadian-kejadian yang baru terjadi, tetapi untuk cerita dan kenangan lama, ingatannya masih sangat baik.

Andung sering menggoda kami dengan berkata bahwa kami pacaran terus saat bekerja — saya bekerja bersama suami saya, Pak Katnen, di rumah Andung dan Angku. Candaan seperti itu membuat suasana rumah selalu ceria. Andung juga sangat menjaga kebersihan — beliau selalu ingin mencuci piring sendiri. Walaupun kami sudah siap membantu, Andung tetap ingin mengerjakannya.

Selain itu, Andung adalah orang yang sangat waspada dan berhati-hati. Setiap malam sebelum tidur, Andung selalu memeriksa semua pintu dan jendela untuk memastikan semuanya sudah terkunci.

Saya sangat bersyukur karena pada hari terakhir saya sempat menemani Andung berdoa, beristighfar, dan berdzikir. Setelah berdoa bersama, Andung menjadi tenang lalu tertidur kembali.

Selamat jalan, Andung. Saya sering rindu pada candaan Andung. Maafkan kalau selama saya merawat Andung ada kesalahan. Saya akan selalu mendoakan Andung.

Penutup

Catatan Kecil Mama

Ilustrasi cat air: seorang ibu membawa hidangan yang mengepul harum

Sebagai penutup, sebuah catatan kecil yang pernah Mama tulis untuk dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika sedang mempersiapkan Idul Fitri. Selama bertahun-tahun, rumah kami menjadi tempat keluarga dan sahabat berkumpul untuk merayakan hari raya. Beberapa hari sebelumnya, Mama sudah mulai menyusun menu, berbelanja bahan-bahan, lalu memasak — memastikan selalu ada hidangan yang disukai oleh semua yang hadir di meja makan.

Catatan menu tulisan tangan Mama: hidangan Idul Fitri — ketupat, sayur lodeh, gulai kambing, ayam bakar cabe hijau, rendang, sate Padang, spaghetti, sosis dan kentang goreng, lamang dan tapai — diakhiri tulisan 'Let's do it'
Daftar menu tulisan tangan Mama menjelang Idul Fitri — ditutup dengan dua kata: “Let’s do it.”

Catatan ini hanya selembar kertas kecil, tetapi bagi kami ia mengingatkan pada kasih sayang, perhatian, dan kemurahan hati yang selalu Mama hadirkan dalam setiap acara — dan kepada kita semua yang pernah duduk dan menikmati hidangan di meja makannya.

Ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam hidupnya: kehadirannya bagi orang-orang yang dicintainya.

Dari buku kenangan keluarga

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا

Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia.

Al-Fatihah

Lompat ke