Suami
Surat Terakhir
Untuk isteri yang sangat kucintai, Justina Rivai. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hari ini sudah seratus hari sejak kau meninggalkanku. Rumah kita masih berdiri seperti dahulu, tapi rasanya berbeda. Masih ada kursi tempat kau biasa duduk, masih ada kamar dan tempat tidur yang biasa kita tempati bersama, masih ada kenangan di setiap sudut rumah. Hanya satu yang tidak ada lagi: dirimu.
Izinkan aku memanggilmu seperti dari dulu sampai akhir hayatmu: Djus.
Djus, masih jelas dalam ingatanku masa-masa kita mulai berkenalan. Waktu itu usiamu antara 16–17 tahun, sedangkan aku 18–19 tahun. Saat itu kita hanya dua orang anak remaja yang belum tahu bagaimana Allah SWT telah menuliskan takdir kita.
Aku masih mengenang danau kecil di Ampangkualo, Solok. Di atas perahu kecil hanya ada engkau dan aku. Air danau tenang, angin berembus pelan, dan kita hampir tidak banyak berbicara. Tetapi sejak saat itu aku tahu ada sesuatu dalam dirimu yang membuat hatiku tenang dan bahagia.
Barangkali saat itu kita tidak pernah membayangkan bahwa naik perahu kecil bersama itu akan menjadi awal perjalanan hidup sebagai suami isteri selama 63 tahun 6 bulan.
Kemudian aku merantau meneruskan pendidikan ke Jawa, sedangkan engkau melanjutkan pendidikan di SGKP Kota Padang dan setelah selesai menjadi Guru SKP di Jambi dan Kota Solok.
Baru pada tahun 1959, di usia 23 tahun, engkau ke Jakarta kuliah di IKIP untuk program Sarjana Muda. Pada saat yang sama saya juga sedang kuliah tahun ke-5 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kita, Djus dan saya, bukan berasal dari keluarga yang berada. Aku masih ingat pakaianku yang sering robek, karena hanya itu yang aku miliki. Tanpa pernah mengeluh, Djus mengambil jarum dan benang, lalu menjahitnya dengan tanganmu sendiri.
Sekarang, setelah merenung, rupanya: “Yang Djus jahit waktu itu bukan hanya pakaianku. Djus sedang menjahit masa depan keluarga kita.”
Djus, dengan surat ini aku ingin menyampaikan terima kasihku. Terima kasih karena tidak pernah malu hidup bersama laki-laki miskin yang hanya mempunyai mimpi. Terima kasih engkau sudah memberikan dukungan, kedamaian, dan kebahagiaan selama 63 tahun 6 bulan kita berumah tangga.
Dalam surat ini juga, aku ingin menyampaikan permohonan maaf. Maafkan aku bila selama 63 tahun 6 bulan menjadi suamimu, masih banyak kekurangan yang mungkin tidak kusadari. Mungkin ada kata-kata yang telah melukai hatimu. Mungkin ada waktu-waktu ketika aku lebih sibuk bekerja daripada mendengar ceritamu. Mungkin ada harapan yang belum sempat kupenuhi.
Dan sekali lagi terima kasih atas kebersamaanmu yang sangat membahagiakan sampai akhir hayatmu.
Kini engkau telah tiada, telah kembali kepada Sang Pencipta, kepada Pemilik Kehidupan. Aku tidak dapat lagi menggenggam tanganmu, tidak lagi mendengar suaramu, tidak lagi melihat senyummu. Tapi aku percaya doa masih dapat menjangkau tempatmu. Setiap kali aku teringat kepadamu, kau selalu dalam doaku: aku memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih, agar mengampuni segala dosamu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, menerangi alam barzahmu, dan menempatkanmu di surga yang penuh kenikmatan.
Djus, perpisahan ini hanya terjadi di dunia. Cinta yang dibangun dengan ketulusan tidak berakhir ketika kematian datang. Ia berubah menjadi doa; ia berubah menjadi kenangan; ia berubah menjadi harapan untuk bertemu kembali.
Apabila Allah memanggilku, aku berharap engkau menjadi orang pertama yang menyambutku dengan senyumanmu yang lembut seperti selama ini.
Terima kasih atas kesetiaanmu. Terima kasih atas cintamu. Selamat beristirahat dalam kasih sayang Allah. Aku akan terus menyebut namamu dalam setiap doa hingga Allah mempertemukan kita kembali.
Suami yang selalu mencintaimu, Abdul Rivai.
Anak-anak
Di mata saya, Mama adalah sosok wanita yang sangat kuat, disiplin, dan seorang project manager yang hebat.
Kesan yang paling kuat tentang Mama adalah kekuatan dan disiplin Mama dalam menjalani hidup sehari-hari. Setiap hari, Mama mengantar-jemput anak-anak sekolah, pergi ke pasar, menyiapkan makan siang dan makan malam, serta mengerjakan proyek tambahan seperti menjahit baju, taplak, dan lain-lain. Menu makan siang kami selalu beragam, terdiri dari setidaknya tiga jenis hidangan. Jauh sebelum orang membicarakan pentingnya whole food, Mama sudah menerapkan prinsip itu di rumah. Saya pernah bertanya mengapa kami tidak pernah dibikinkan Indomie atau bakso, atau disediakan rempeyek dan keripik sebagai camilan. Jawaban Mama sederhana: makanan itu hanya mengenyangkan, tetapi kurang gizinya. Dulu saya sering iri melihat makanan di rumah teman-teman, tetapi setelah dewasa saya bersyukur karena Mama membangun kebiasaan makan yang baik.
Mama juga mengajarkan saya untuk mempertahankan hak diri — stand up for myself. Saat saya masih di Sekolah Dasar, ada seorang anak laki-laki berbadan besar yang selalu meminta saya membelikan makanan untuknya. Karena takut, saya terus menuruti permintaannya. Ketika saya mengadu kepada Mama, saya berharap Mama akan berbicara kepada orang tua anak itu. Namun Mama justru menyuruh saya menolak dengan tegas. Keesokan harinya saya mengatakan tidak. Anak itu marah dan membenturkan kepala saya ke dinding. Saya tetap bertahan dan menatap matanya dengan tegas. Akhirnya ia pergi, dan tidak pernah lagi mengganggu saya. Dari Mama saya belajar bahwa batas antara menjadi korban dan berhenti menjadi korban sering kali ditentukan oleh keberanian kita sendiri. Kita bisa mengubah keadaan ketika kita berdiri, menatap, dan berkata “cukup”.
Mama selalu menyediakan waktu dan tenaga untuk mendukung anak-anaknya. Saat saya akan melahirkan anak pertama di luar negeri, Mama datang mendampingi saya selama tiga bulan. Ketika Armand menangis semalaman karena colic, Mama yang terus menggendongnya dan menyuruh saya beristirahat. Tanpa kehadiran Mama, saya mungkin akan panik dan frustrasi. Mama juga hadir saat kelahiran Diandra. Ketika saya harus kembali ke Amerika Serikat dan hanya bisa membawa Armand, Mama kembali mengasuh Diandra selama beberapa bulan, dan sesudahnya mengantar Diandra untuk berkumpul lagi dengan kami. Dari pengalaman itu saya memahami betapa besar peran seorang ibu dalam membangun rasa aman dan percaya diri anak-anaknya. Kini saya berusaha melakukan hal yang sama untuk anak dan cucu saya.
Mama juga seorang yang berani dan resourceful. Salah satu kenangan yang paling saya sukai adalah ketika kami berlibur di Paris. Suatu hari Mama memutuskan tidak ikut sightseeing. Saat kami pulang, Mama juga belum kembali ke hotel. Tidak lama kemudian beliau datang dengan wajah berseri-seri. Rupanya Mama memberanikan diri naik Metro sendiri dan menemukan Galeries Lafayette Haussmann. Keesokan harinya beliau mengajak kami ke sana. Kami semua kagum karena ternyata Mama menemukan sendiri salah satu ikon kota Paris.
Rumah kami juga selalu terbuka bagi keluarga besar. Sejak saya kecil, saya melihat tidak sedikit keponakan atau kerabat dari kota lain dan kampung halaman yang bersekolah di Bandung dan tinggal bersama Ayah dan Mama, dengan penuh kepercayaan dari orang tua mereka. Selain mengurus kelima anaknya, Mama juga menjadi ibu bagi para keponakan dan anak kerabatnya. Setiap Idul Fitri rumah kami selalu dipenuhi sanak saudara dan teman-teman. Mama, dibantu Tante Martini, memasak ketupat, ayam panggang, gulai kambing, rendang, sayur lodeh, sate Padang, bahkan spaghetti, sosis, dan kentang goreng untuk anak-anak. Saya selalu mengagumi keluasan hati Mama menerima begitu banyak orang di rumah kami.
Ketika Mama tiba-tiba berhenti sibuk, kami semua merasa kehilangan. Rupanya Mama mulai mengalami demensia dini. Ayah mengonfirmasi bahwa Mama memang semakin sering lupa, terutama hal-hal yang baru terjadi. Namun saya bersyukur karena sampai akhir hayatnya Mama tetap mengenali orang-orang yang dicintainya, masih mengingat kenangan lama, tetap mandiri melakukan kegiatan sehari-hari, dan tidak kehilangan rasa humornya. Memang Mama menjadi lebih pendiam, tetapi ketika bersama Ayah, anak-anak, dan cucu-cucu, Mama selalu berusaha berkomunikasi.
Saya sangat sedih karena pada hari-hari terakhir Mama saya sedang berada di luar negeri menjaga cucu. Saat kami video call, Mama meminta saya datang menjenguknya di rumah sakit. Permintaan itu tidak dapat saya penuhi. Yang sedikit menghibur hati saya adalah sebelum saya berangkat, Mama dan Ayah sempat menginap di rumah saya selama sebelas hari. Kami menghabiskan banyak waktu bersama, dan kini kenangan itulah yang saya pegang.
Selamat jalan, Mama. Terima kasih untuk semua cinta, perhatian, pengorbanan, dan teladan yang Mama berikan sepanjang hidup Mama. Mama akan selalu lekat dalam kenangan Jenny.
Ya Allah, jadikanlah setiap amal baik, kasih sayang, serta pengorbanan yang Mama berikan kepada keluarga sebagai pemberat timbangan kebaikannya. Ampunilah segala dosa dan khilaf Mama, serta tempatkanlah Mama di tempat yang terbaik di sisi-Mu.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan-Nya. Terima kasih telah bersama kami hari ini untuk mendoakan dan mengenang Mama.
Di mata saya, Mama — Justina Rivai — adalah seorang ibu yang cantik, lembut, penuh kasih sayang, dan sangat mementingkan kepentingan keluarga.
Mama dilahirkan tahun 1936. Beliau dan dua orang adik laki-lakinya dibesarkan di sebuah rumah kayu mungil di desa Selayo, Sumatera Barat, oleh Andung atau nenek saya, sementara kakek saya meninggal pada waktu Mama dan adik-adiknya masih kecil. Masa itu adalah masa yang sulit bagi mereka, tetapi mereka adalah individu-individu yang kuat dan dapat bertahan dengan baik.
Mama dibesarkan dengan nilai-nilai tradisional pedesaan dan memiliki keahlian-keahlian khas seorang wanita di zamannya — memasak, mendesain model baju, menjahit, menyulam. Beliau juga berpendidikan sebagai seorang guru.
Saya ingat sekali bahwa sampai saya kelas 3 SD, keluarga kami hidup dengan keadaan keuangan yang cukup ketat, tetapi kami selalu disediakan masakan Mama yang lezat, dan disediakan pakaian yang layak, banyak di antaranya yang Mama jahit sendiri.
Pada waktu saya kecil, saya sering melihat Mama menghabiskan waktu berjam-jam di depan mesin jahitnya, membuatkan pakaian yang bahan dan modelnya sama persis untuk saya dan Jenny pakai. Sekarang saya bisa melihat kembali foto-fotonya, dan saya pikir Mama sangat kreatif mendesain baju untuk kami. Ada foto kami berbaju kurung di studio foto, ada foto kami bercelana pendek, kemeja, dan topi yang stylish di Taman Ria Senayan, ada foto saya waktu kecil memakai long dress, dan banyak foto-foto lainnya di mana kami berpakaian persis sama seperti anak kembar, hasil desain dan jahitan Mama.
Di waktu lain, saya juga sering melihat Mama menyulam untuk membuat taplak meja yang indah. Karena saya sering memperhatikan Mama menyulam, Mama pun perlahan-lahan mengajarkan saya untuk menyulam dan mengizinkan saya untuk ikut menyulam bagian-bagian taplak meja tersebut.
Saya akan selalu ingat persiapan yang kami lakukan bersama setiap menghadapi hari Lebaran — membuat kue kering, membereskan rumah, memasang taplak meja baru hasil sulaman Mama, mengeluarkan koleksi piring-piring Mama, dan semua kehebohan lain di dapur pada waktu Mama memasak ketupat, gulai buncis, ayam bakar, rendang, dendeng balado, sate Padang, tape, dan makanan khas Lebaran lainnya yang merupakan beberapa spesialisasi Mama. Masakan Mama selalu lezat dan berlimpah, dan kami semua sangat menyukainya.
Menjadi seorang ibu dari lima anak — Jenny, Wati (saya), Myrni, Santi, Andika — Mama cukup repot mengurus kami, mengantar-jemput kami pergi sekolah, les piano, les tari Bali, les bahasa Inggris, dan lain-lain, tapi Mama tidak pernah mengeluh dan selalu bersemangat. Juga tidak pernah menolak, dan selalu ramah jika teman-teman kami akan datang main ke rumah, belajar atau mengerjakan PR bersama, atau sekadar mengobrol. Mama selalu menyambut mereka dengan ramah. Dan karena Mama biasanya memasak dalam jumlah yang cukup banyak setiap harinya, seringkali teman-teman yang datang pun ikut makan menikmati masakan Mama di rumah.
Mama mengajarkan dan mencontohkan banyak hal kepada kami waktu kecil — gaya hidup sederhana dan tidak berlebihan, dan selalu bersyukur akan apa yang kami dapatkan dalam hidup ini. Dan karena Mama adalah orang yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, Mama lebih banyak memberi contoh melalui tindakan, bukan dengan kata-kata.
Mama tidak pernah menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli perhiasan mahal, make up, pakaian, ataupun tas-tas bermerek yang mahal untuk dirinya sendiri. Dulu, pada waktu kami sedang jalan-jalan ke luar negeri seperti ke negara-negara Eropa atau Amerika, saya memperhatikan Mama selalu sibuk memilihkan pakaian untuk Myrni, Santi, dan Andika yang pada waktu itu masih kecil-kecil, ataupun membeli kebutuhan rumah, tapi Mama jarang sekali saya lihat belanja untuk dirinya sendiri. Mama selalu terlihat cantik alami dengan penampilan, pakaian, dan make up yang sangat bersahaja.
Merupakan suatu kehormatan bagi saya berdiri di sini dan membagi kenangan yang sangat berharga tentang Mama. Kami semua akan sangat kehilangan, tetapi kenangan bersama Mama akan hidup dalam diri kami selamanya.
Mama, terima kasih atas semua yang telah Mama berikan kepada kami dan kehangatan yang kami dapatkan selama hidupmu yang sangat berharga di dunia ini. Kami sangat mencintai Mama, dan akan sangat merindukan Mama lebih dari apa yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Mama, selamat menemui Allah di tempat yang terbaik dan melalui jalan yang terbaik. Selamat bertemu kembali dengan Andung di surga, dan semoga Mama berbahagia dan tenang di sisi Allah. Sampai berjumpa lagi, Mama.
Wanita Kuat dalam Kelembutan
“Tidak semua kekuatan hadir dengan suara lantang atau kepalan tangan. Ada kekuatan yang tumbuh dalam wujud kelembutan, kesabaran, dan kasih yang tak pernah senyap. Bagi kami, kekuatan itu adalah Mama.”
Ada banyak kenangan tentang Mama. Tapi yang ingin saya ceritakan adalah kisah masa kecil yang pernah beliau ceritakan kepada kami, anak-anaknya. Yang sangat membekas di ingatan saya adalah cerita setelah beliau kehilangan sosok ayahnya ketika masih sangat muda. Mama harus melewati masa-masa sulit bersama ibu dan dua adiknya yang masih kecil. Kehilangan sosok pelindung bagi mereka bukanlah hal yang mudah.
Pada masa itu, ibunda beliau dan adik perempuannya, Andung Acik, pernah berkelahi menghadapi seorang laki-laki demi mempertahankan sawah mereka; saya sungguh kagum karena sudaro padusi nan baduo tu bisa mengalahkan seorang laki-laki yang memegang kerambit atau celurit yang berniat mencuri hasil panen sawah mereka. Bayangkan betapa hebatnya anduang-anduang ambo tu.
Dari ibunya, Mama mewarisi sifat yang sangat menjaga dan melindungi anak-anaknya. Mama selalu hadir sebagai pelindung yang memberi kehangatan bagi kami semua. Mama adalah wanita yang tak pernah lelah dari pagi sampai malam mengurus keluarganya. Beliau rela mengorbankan keinginannya demi orang lain, terutama demi melihat kebahagiaan anak-anak dan cucu-cucunya.
Satu hal yang saya amati tentang Mama adalah: beliau adalah pribadi yang jauh dari kata sombong. Sombong dalam arti merasa diri lebih baik, lebih mulia, lebih berilmu, atau lebih kaya hingga memandang orang lain sebelah mata — semua itu tidak ada dalam diri Mama. Kadang sifat seindah ini luput dari perhatian kita, padahal inilah alasan utama mengapa Mama selalu berhasil membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya.
Sebagai seorang Anduang (nenek), Mama tidak pernah keberatan jika diminta menjaga para cucu. Mama juga sangat menikmati saat bisa bermain atau bercanda bersama mereka. Kami sering tertawa sampai berlinang air mata karena candaannya. Waktu bersama Anduang selalu terasa membahagiakan.
Melihat kembali perjalanan hidupnya, bagi saya, Mama telah menyelesaikan tugas hidupnya dengan sangat baik. Untuk itu, saya berdoa, semoga setiap tetes keringat dan air mata yang Mama keluarkan dalam membesarkan kami selalu menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus. Semoga Allah SWT menerima Mama di sisi-Nya, melapangkan kubur Mama, dan mengampuni setiap khilaf yang ada.
Mama, selamat beristirahat dengan tenang. Kami sangat merindukan dan mencintaimu. — Putri Myrni E. R.
Glosarium bahasa Minang: anduang etek — nenek kecil, saudara perempuan dari nenek; sudaro padusi nan baduo tu — kedua saudara perempuan itu; anduang-anduang ambo — nenek-nenek saya.
Everybody talks about her cooking. Even these days, childhood friends who came to play or study at our house still talk about the food she served them. We do the same; when we speak of our memories of her, inadvertently we talk about dishes she made. Talk to anyone about Mama, and it won’t be long before food comes up.
But here are some memories I think are only mine:
I remember being a young girl, maybe six or seven years old, having friends over, pretending to be explorers. We crawled under the dining table imagining it was a cave, and Mama — in the midst of all the things she had to do to run a household with five children — decided to pitch in. She brought out her collection of tablecloths and draped them over the dining table. Thick sturdy ones, beautifully embroidered ones, all layered one over the other so that the table’s underside had this thick, tent-like feeling. She covered the floor with a woven mat or two, and set out cushions and pillows to make our cave feel homey. And once we settled inside, she sent in snacks.
I remember being a little older, and reading those Enid Blyton books where they were always talking about ‘tea time’. It sounded like a good idea to me, so I asked Mama if we could try it. She asked questions; she wanted to know what the books said and what food I wanted. It was a whole production when we did it. She brought out the teapot with its matching cups and saucers, which she kept in a box on the top shelf of the pantry — all porcelain, the teapot tall and slender, each piece painted with little scenes of a man and a woman in old-fashioned European clothing. She prepared sandwiches and cookies and pastries, and we invited the whole family to join us. I can’t remember if my sisters showed up. But I do remember how the teapot and cups looked on our narrow TV table, how fancy it all seemed. And how game Mama was about this foreign tradition I got out of a book.
And then I remember as a teenager, shortly before I left for the United States, when I would obsessively watch music videos in my spare time. One evening she stopped to see what I was watching. Always excited when I felt someone was paying attention to something I loved, I started telling her about the different bands, what the songs were about, the parts I thought were clever or funny or sweet. She pulled up a chair and watched them with me for a good while. Maybe she enjoyed the music, maybe she didn’t. But I think she understood what it meant for me to be able to share this with her, and so she stayed.
In the years preceding her death, Mama’s memory began to fail her, and she became more withdrawn. When she and Ayah were visiting Jakarta — usually for an event or a medical check-up — I used to bring my laptop to my sister Jenny’s house where they would stay. I’d sit and work at the big table outside the guest room, and Mama would come out to sit with me. Occasionally she asked me what I was working on, only to ask again a few minutes later. But mostly she kept quiet; she was never one to say her love out loud anyway.
She never did need a lot of words, even with strangers. I’ve been thinking of a story she told me years ago, when Mama was in her seventies, having just returned from a trip abroad with Jenny and her family. At some point during the trip, she was waiting alone somewhere, maybe at an airport, or a train station, while the rest of the family was away on an errand. A woman a little younger than her was sitting nearby — German, I seem to remember Mama saying. Neither of them spoke much English, but through signs and broken phrases, they each told the other about their family: how many children, how many grandchildren. Mama marveled at how they understood each other, how they managed to share pieces of their lives with one another despite how little language they had between them. She was quite proud, I think, and also full of happiness. I think about her telling me this now, and I remember she was radiant.
Aku tinggal bersama Mama selama 23 tahun, dari tahun 1978 sampai 2001. Karena beda umurku dengan kakak-kakak cukup jauh, dan mereka sudah bersekolah di luar negeri sejak kecil, mungkin hampir setengah dari masa itu aku sendirian di rumah bersama Mama. Karena itulah, di masa-masa itu aku sangat dekat dengan Mama.
Mama yang mengantar dan menjemputku ke sekolah, ke les bahasa Inggris, ke kolam renang. Mama yang menemaniku belajar. Mama yang mengajakku belanja — ke Cihapit, Setiabudhi, atau Gelael. Ke toko daging yang dulu bernama Badranaya. Sesekali kami ke Pasar Baru.
Kami jarang jajan di luar. Tapi biasanya, setiap selesai berenang, kami makan siomay di Borobudur. Atau bitterballen di Bumi Sangkuriang. Kenangan-kenangan sederhana seperti itulah yang sekarang terasa begitu berharga.
Mama dulu sering sakit kepala. Kalau sedang sakit, Mama banyak berbaring di kamar. Itu berlangsung bertahun-tahun, dan baru berkurang setelah aku mulai kuliah.
Mama juga rajin mengaji. Biasanya Mama memakai mukena putih dengan sarung hijau, memasang kaset, lalu mengikuti bacaan itu sambil membaca Al-Qur’an besar milik kami di rumah, duduk di lantai kamar yang waktu itu masih beralas karpet merah muda. Sampai sekarang, bayangan Mama duduk mengaji seperti itu masih jelas dalam ingatanku.
Setelah aku pindah ke Jakarta, aku masih sering pulang ke Bandung, mungkin setiap dua atau tiga minggu sekali. Setelah pindah ke luar negeri pada tahun 2005, kami biasanya hanya bertemu setahun sekali. Terakhir kali aku bersama Mama dalam waktu yang lama adalah ketika Jusuf lahir pada tahun 2010 — Mama tinggal bersama kami di Beijing selama tiga bulan.
Selamat jalan, Mama. Terima kasih untuk semua kasih sayang, kesabaran, dan doa-doa yang menemaniku sepanjang hidup. Semoga Allah menerima semua amal ibadah Mama dan melapangkan tempat Mama di sisi-Nya.
Menantu
Saya mulai mengenal Mama sekitar tahun ’82, ketika itu saat awal berkenalan dengan Jenny karena sekolah bersama di Fakultas Ekonomi UNPAD Bandung. Mama orangnya pendiam, tidak banyak bicara tapi sangat penuh perhatian.
Mama selalu dengan sigap menyediakan makanan dan minuman pada saat kami belajar bersama di rumah Cipunagara 23. Hampir setiap saat ada kegiatan belajar bersama, selalu tersedia makanan dan minuman. Tidak jarang Mama pergi belanja makanan apabila persediaan di rumah habis untuk dihidangkan kepada kami yang sedang belajar bersama. Dan untuk makan malam Mama selalu menunggu Ayah pulang dari praktek.
Kebiasaan ini terus berlanjut sampai kami mempunyai anak, Armand dan Diandra. Mama selalu menyempatkan diri menyediakan makanan kesukaan Armand dan Diandra, spaghetti dengan bola daging. Kebiasaan ini terus dilakukan sampai anak-anak menginjak usia dewasa. Begitu juga kalau ada acara-acara di rumah, Mama selalu sebisa mungkin menyiapkan sendiri masakan-masakan yang akan dihidangkan, dengan dibantu oleh beberapa pembantu dan saudara.
Semua ini Mama lakukan tanpa banyak bicara. Mama melakukannya dengan senyap dan semua diselesaikan dengan baik. Mama adalah sosok pekerja di balik panggung, yang bekerja tanpa perlu perhatian ataupun pujian. Tidak pernah saya melihat Mama mengharapkan ucapan terima kasih. Mama selalu bekerja memenuhi kebutuhan Ayah dan anak-anaknya dengan sepenuh hati, ikhlas, dan sama sekali tanpa banyak bicara.
Keikhlasan Mama melayani keluarga ini yang menurut saya perlu diteladani oleh kita semua. Mama bagaikan bulan purnama yang selalu menerangi keluarganya dalam keheningan dan kelembutan, tanpa perlu mengeluarkan suara yang keras.
Semoga Mama mendapatkan kedamaian serta kemuliaan di sisi Allah Yang Maha Pengasih. Aamiin ya Rabbal ’alamiin.
Bagi saya, tidak mudah menceritakan tentang Mama. Rasanya, sosok Mama lebih mudah dirasakan daripada diungkapkan dengan kata-kata. Yang paling saya syukuri adalah kehadiran Mama dalam kehidupan keluarga kami. Saya yakin, tanpa kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan Mama, ketiga anak kami tidak akan tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang.
Mama adalah orang yang tidak banyak bicara, lebih sering mendengarkan saat orang lain bercerita, dan selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Di wajah Mama hampir selalu ada senyum yang tulus dan tawa yang lepas. Sesekali Mama melontarkan candaan dalam bahasa Padang, yang kadang saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Namun justru itulah yang membuat suasana di meja makan menjadi hangat dan penuh tawa. Cerita-cerita tentang masa lalu yang Mama bagikan selalu menjadi bagian yang kami nantikan.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah bagaimana Mama selalu hadir saat ketiga anak kami lahir. Beliau merawat mereka dengan penuh kasih sayang, membuatkan makanan, menemani bermain, mengantar ke sekolah, dan memberikan perhatian dalam hal-hal kecil setiap hari. Semua itu dilakukan tanpa pernah mengharapkan balasan. Sampai hari ini, anak-anak kami masih mengingat semua kebaikan itu sebagai bentuk cinta seorang Andung yang begitu tulus.
Mama juga mengajarkan banyak hal lewat caranya menjalani hidup. Mama tidak suka mengeluh, tidak pernah membuat hidup terasa rumit, dan selalu menjalani hidup apa adanya. Mama juga senang membantu saudara, keluarga, dan siapa pun yang membutuhkan. Dari Mama saya belajar bahwa kebaikan tidak harus diucapkan, tetapi cukup ditunjukkan melalui tindakan.
Hal lain yang tidak akan pernah saya lupakan adalah masakan Mama. Mama selalu memasak dengan sepenuh hati dan menggunakan bahan-bahan terbaik. Bagi saya, masakan Mama tidak akan bisa digantikan oleh restoran mana pun. Yang paling saya rindukan tentu saja sate Padang buatannya, dengan potongan daging dan lidah yang besar serta kuahnya yang khas dengan taburan bawang goreng yang crispy.
Mama telah meninggalkan teladan yang sangat berharga, yaitu hidup dengan rendah hati, tidak banyak bicara, tapi selalu berbuat baik dengan penuh ketulusan. Itulah warisan paling berharga yang Mama tinggalkan dan akan terus kami kenang selamanya.
Mama, terima kasih atas semua kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan yang telah Mama berikan. Mama orang baik, berhati tulus, dan dicintai oleh begitu banyak orang. Kenangan tentang Mama akan selalu hidup di hati kami. Semoga kami dapat menjaga dan meneruskan semua nilai baik yang Mama wariskan, agar kasih sayang dan ketulusan Mama terus hidup dalam keluarga kami, dari anak-anak hingga cucu-cucu kami kelak.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sudah lebih dari 100 hari Almarhumah Mama berpulang, namun rasa kehilangan ini masih sedalam saat pertama kali kami mendengar kabar itu. Pulang ke Cipunagara kini terasa sangat berbeda tanpa kehadiran, kehangatan, dan senyum jahil Mama.
Mama adalah sosok ibu, nenek, dan ibu mertua panutan yang luar biasa — begitu setia, bersahaja, mandiri, dan penuh kedermawanan. Sejak pertama kali diperkenalkan dan menjadi bagian dari keluarga ini, kehangatan Mama langsung terasa. Mama tidak pernah sekalipun memandang atau memperlakukan saya sekadar sebagai “menantu”. Mama memeluk dan menerima saya sepenuh hati.
Rumah Cipunagara menjadi saksi betapa generous dan tanpa pamrihnya Mama. Mama selalu membuka pintu rumah untuk sanak saudara yang bersekolah di Bandung. Di tengah kesibukan menjadi host mom, Mama masih sempat menjahit set seprei, bed cover, hingga gaun dan rok cantik untuk dijual. Mama mendedikasikan seluruh hidup — setiap tenaga, kasih sayang, dan uluran tangan — untuk anak, cucu, hingga cicit, tanpa pernah meminta balasan apa pun.
Saat saya hamil dan menyambut kehadiran Jusuf, Mama hadir selama tiga bulan penuh untuk merawat kami. Di masa-masa ketika saya merasa begitu vulnerable sebagai ibu baru, Mama selalu hadir dalam senyap — menyiapkan segala kebutuhan kami dengan tulus, tanpa pernah menghakimi, hanya memberi rasa aman.
Mama tak pernah membiarkan kami melangkah sendirian. Ke mana pun langkah kami berpindah rumah, Mama selalu ada untuk menemani. Mama adalah sosok yang setia mendampingi dan menguatkan di setiap fase kehidupan keluarga kami.
Penyesalan terdalam saya adalah tidak bisa berada di sisi Mama pada saat-saat terakhir, sebagaimana Mama yang tak pernah absen hadir dalam kehidupan kami. Rasa rindu dan kehilangan itu akan selalu membekas.
Terima kasih, Mama, untuk setiap teladan, kebaikan, dan cinta tanpa syarat yang telah diberikan. Kasih sayang Mama adalah warisan paling berharga yang akan selalu kami jaga. Kami sangat merindukan dan menyayangi Mama. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima seluruh amal ibadah Mama, dan memberikan tempat terbaik dan terindah di Jannah-Nya.
Cucu-cucu
The first thing that comes to mind when I think of you is White Rabbit candy. You would always bring them whenever you came to visit. And I would end up finishing a packet in less than a week because they’re so good. Your visits always felt like cheat days, because those were the days I get the most candy. And foot massages.
The second thing that I remember is your spaghetti, which I would always look forward to at our Eid celebrations. I didn’t always look forward to travelling up to Bandung, least of all because I know it meant wiping down hundreds of sets of silverware, mopping the floors, and eating Minang food for breakfast, lunch and dinner. I would spend the days running around the house restocking water bottles while Angku and the family entertained guests. I barely ever explored the city. For the longest time, I thought of Bandung as spanning from Cipunagara 21 to Cipunagara 23 — your house, not a whole city.
The third thing I remember is your sate padang. I always bragged to everyone that yours is the best sate padang we ever ate. We tried making it, but it turned out tough and we burnt through a plastic table trying to light the charcoal. The Minang dishes made me feel connected, however briefly, to a part of my heritage that I otherwise had no connection to.
The fourth thing I remember is when you stopped cooking. Yet you still made jokes, laughed and put smiles on our faces. I know that you stopped cooking because you may not remember your complex recipes, you still remembered the sweetness of life and relived its memories with us at the dinner table.
I guess it’s apropos that my memories of you revolve around food. Like food, you were a calming presence in my life. You never seemed to get upset, or yell, or judge me when I am being weird. The unconditional love you gave me is probably why I would end up turning to your spaghetti recipe for comfort whenever I was feeling homesick at university, or stocking up on White Rabbit candies at home.
Your lifelong dedication to building for your family is a source of inspiration for me, and I hope you know what an accomplishment your life has been. Now that I have a family of my own, I hope that I can be just as committed, compassionate and comedic as you.
I love you Andung.
Some of my strongest memories of Andung are woven through different stages of my life. When I was just a baby, she lovingly cared for me in Indonesia while my parents were working in the United States. Even though I was too young to remember those days myself, I grew up knowing that I was deeply loved and cared for because of her.
As I got older, visiting her home in Bandung always felt special. I remember the delicious meals she would prepare for us with so much love and generosity. Food was one of the many ways she cared for the people around her, making everyone who sat at her table feel welcomed and cherished. I also remember her singing me to sleep, a simple act that reflected the gentleness and comfort she brought into the lives of those she loved.
What means even more to me is that her love didn’t fade with distance or time. She flew halfway across the world to celebrate my university graduation, stood beside me on my wedding day, and later had the joy of meeting my daughter. Each of those moments reminds me that she always chose to be present for the milestones that mattered most.
When I think of Andung, I think of her warmth, kindness, and unwavering care. She had a beautiful way of making people feel loved through both the everyday moments and the extraordinary ones. While we cannot control when the people we love leave us, I feel incredibly blessed and grateful for every time she chose to love me, support me, and show up for me. Those are the memories I will carry with me always.
My biggest impression of Andung is the immense care and love she had for her family. I learned that she helped raise all of her grandchildren, holding each of them close to her heart. As my parents were busy during my early childhood, Andung raised me for the first few years of my life, and she did so with endless love and patience.
Every night before bed, she would play with me to help me fall asleep. She accompanied me to kindergarten every day when I was too afraid or unwilling to go by myself. She had often been the only one accompanying a child in the classroom, yet she never showed frustration or anger toward me.
One memory that has always stayed with me was during a family trip to Istanbul. While everyone else went sightseeing, I didn’t want to go. Being the only one to stay behind, Andung kept me company on a park bench by the river, which I thought was the most beautiful place in the city. While sitting there, Andung wrapped me in her shawl to keep me warm, even though she must have been cold herself.
Her unconditional love and support gave me the space to learn, grow, and become my own person. She taught me that love and empathy are incredibly powerful, and their impact can last a lifetime. Her kindness shaped my life in ways I continue to carry with me today. Her love gives me faith that compassion can endure, even in times when the world could be so cold.
Seeing the way others have been affected by Andung’s passing — Andung left this world having touched the hearts of so many people, who continue to cherish her memory and carry her love with them.
If there is one final thing I could say to her, it would simply be, “thank you.” Thank you for being part of my happiest memories, even if it was only for a little while.
Andung has always been very patient and loving, especially towards her grandchildren. She has a fun sense of humor and a playfulness that makes her seem young at heart. I would joke around with Andung a lot when I was a kid, and she would always go along with my jokes, no matter how silly they were. That warmth, her willingness to be silly, and her ability to light up a room and keep everyone smiling are things we all cherish and miss about her.
One of my favorite memories is eating her food, as Andung loved to cook; it was always such a comforting feeling for me. I still crave her nasi bola-bola with salmon, and to this day, I make something similar with rice and seaweed, which always brings me comfort.
I appreciate Andung always taking the time to spend time with me, Zivan, and Zane. She would always make sure to play and joke with us every time we visited. Andung taught me that love is shown in the simplest moments: through laughter and time well spent together. Those memories hold a special place in my heart. I hope to carry that same joy and comfort to the people I love, just like she did for us.
I have never lived in Indonesia. So I only saw Andung a few times a year. I only saw her during holidays, or when she and Angku came to visit us.
Yet, I never felt far from her.
She was there in the hospital room a few days after I was born, holding me by the window. I was too small to remember it. But she was there at the very beginning, and I think she was always going to be.
What I do remember are small things. Watering the plants in her garden while she stood behind me, just keeping me company. Riding the train with her in Europe while Angku fell asleep beside her. This was one of my earliest memories of Andung and I will never forget that smile and the laughter that came with it. Playing with my superhero figures at her table while she pressed her cheek against mine and made a funny face. I stayed completely focused on my toys. I wish I had turned around.
And the summer she and Angku came to Luxembourg, and we drove to Strasbourg together. It was just the four of us in a small boat on the canal, my dad wearing the audio guide, Andung sitting at the front. At the time, I didn’t think anything was extraordinary. But she had flown across the world, at her age, to spend an afternoon on a river with us. And now I know it wasn’t.
That’s what I want to remember about Andung, that she always made the effort. Our family is spread across the world, and she was the one who kept pulling us back together.
Thank you, Andung, for always coming. I will always cherish your smile, your laughter, and I’m sorry I didn’t turn around more often.
Hello everyone. I want to tell you about my grandma, Andung.
When I think about her, I remember how she liked to joke around. Sometimes I would tease her and ask funny questions, and she would play along and pretend she did not know what I was talking about. She always made us laugh.
Andung was also quiet sometimes, but she had a particular way of making people feel comfortable. Whenever we visited Andung and Angku’s house, she helped make the mood lighter and happier just by being there.
I miss her a lot. Sometimes when we go to Andung’s house now, I look at the chair where she used to sit. The chair is empty, but in my mind, I can still see Andung there. I can almost hear her voice and remember her smile. It makes me sad that she is gone, but it also makes me happy because I have those memories.
I am thankful that she was my grandma. I am thankful for the laughs, the jokes, and the happy times we shared together.
Andung, I miss you, and I will keep thinking about you whenever I see that empty chair. You will always have a place in my heart. I love you, Andung. Thank you.
Though I knew Andung very briefly, and during the twilight of her life, I was so blessed to see the world that she had built around her — through her granddaughter, through her oldest daughter, and through her whole family.
I will never forget the love and care that I felt entering the Rivai family; I felt it was a testament of her own, to raise a family so willing to let someone with a different background and faith into their own. Despite Andung’s humble beginnings her family have really become some of the most ambitious and capable people I am lucky to have joined.
Of the precious times I have spent with Andung, she was always trying her best to make me laugh, to make me feel like part of her family. Though the Andung I met may not be the same as the one described to me by Dee, I can see through our family how she must have been to raise such wonderful people, and I hope in the few years that I have known her, she knew the happiness she has cultivated to her family and community.
For Andung — love, Yos Tampi.
Blessed to Call You Andung
“Andung dan Angku itu sebutan Opa dan Oma lo ya, Mand? I’ve never heard people call their grannies that.” — pernyataan luguku saat dengar Armand cerita tentang keluarganya di Bandung. Sebagai anak Indonesia Timur, sebutan itu asing sekali di telingaku. “Oh iya, tapi Andung itu nenek, Angku itu kakek. Kan gua orang Minang,” ralatnya bangga sambil lanjut celoteh trivia bahwa dia bukan Minang KTP saja tapi Andung-nya punya ladang, sawah, komplit serumah-rumah gadang pula di Solok, Selayo. “Woaa, rumah gadang banget nih? Kayak di cerita Datuk Maringgi jaman gua masih kecil. Noice! Kental juga ke-Indonesia-an keluarga lo ya,” sambarku, disambut cengiran bangga Armand, “Yoi, Minang pride! Gw kan anak daerah juga.”
Sepenggal interaksi inilah memori pertamaku tentang Andung dan Angku, yang di awal selalu kulabeli di kepala dengan — “Andung yang mengandung, Angku yang memangku” — agar tidak tertukar saat menyapa mereka.
Saat akhirnya bertemu Andung pun kesanku terhadap beliau seperti itu: “sosok ibu yang tenang dan mengayomi ya.” Aura Andung selalu didukung cerita betapa berbakatnya Andung memasak beragam masakan (Padang dan non-Padang), dedikasi Andung mendukung kesibukan Angku sedari belum-sedang-hingga pensiun menjadi dokter anak bereputasi di Bandung, membesarkan lima anak hingga menemani enam cucu pula.
Kata “mengandung” yang awalnya kupakai sebatas label memori itu makin filosofis maknanya. Berdasarkan telusuran internet memang kata Andung mengacu pada garis matrilineal Padang, simbol kelembutan dan kasih sayang. Buatku, memang itulah presensi Andung Justina: kelembutan dan kasih sayang.
Terima kasih Andung, sudah mengasihi aku si anak Timur ini dengan hangat di dalam keluarga besar Minang Andung melalui Armand, cucu pertama yang juga Andung berikan namanya. Aku belajar banyak tentang budaya Minang bukan cuma dari darah Andung dan Angku yang turun ke Armand tapi juga dari warisan budaya, pola hidup, dan kisah Andung & Angku. I am blessed I got the chance to call you Andung. — Love, J.J.
Keponakan & kerabat
Al-Fatihah untuk almarhumah tante Justina Rivai. Semoga almarhumah ditempatkan bersama kekasih Allah di surga-Nya. Tante Jus dengan akhir hidup yang baik, husnul khatimah.
Awal mengenal tante Jus Rivai: dari ibu kami, As Auliena Mahyudin Ranny. Sejak remaja, bila ke Bandung (era tahun 80-an ke atas) kami yang gen X (kelahiran tahun 1965) kerap diajak silaturahmi ke rumah om Rivai & tante Jus. Ibu kami adalah kerabat dari om Rivai dari jalur kakek (Makmur Sudin) kami di Selayo, Solok.
Kesan pertama: kecantikan wajahnya, anggun dan lembut. Almarhumah termasuk tipe pendiam, namun lewat senyuman dan sorot matanya tergambar keramahan yang tulus. Beliau tidak membedakan strata, semua sama di matanya. Istimewa, kecantikan lahir dan batinnya.
Kenangan yang paling berkesan — menjadi motivasi kami: setiap melihat tante Jus & om Rivai, bagi kami adalah pasangan yang paling romantis, sekaligus mengingatkan film “Habibie & Ainun”, kisah nyata.
Kemahiran almarhumah dalam memasak yang rutin setiap hari dalam porsi besar; menu yang disiapkan pun dibagikan sama rata baik untuk keluarga inti maupun ke sanak kerabat yang berada di rumah Cipunagara maupun di Buah Batu (tempat praktek). Konsisten mengatur penampilan fisik, dan rumah Cipunagara selalu rapih, bersih, apik dengan taman yang indah.
Kenangan kami dua tahun terakhir (2024 & 2025): kami menginap di rumah om Rivai & tante Jus di Jalan Cipunagara, dua atau tiga bulan sekali. Kondisi fisik tante Jus nampak agak berbeda, lebih berisi, namun kecantikan dan senyum beliau tetap awet. Tante Jus mengenakan cardigan berbahan wol putih, hasil rajutan buatan almarhumah sendiri yang menjadi kostum kesayangan beliau. Meski di dalam rumah, almarhumah tetap konsisten tampil chic, cantik, dan rapih bersih. Saat breakfast, tante Jus & om Rivai kerap bercanda saling meledek — lucu, dan senang kami melihatnya. Om Rivai telaten memberikan buah pir kesukaan tante Jus dan beberapa obat yang rutin diminum oleh tante Jus; posisi duduk selalu sama. Melihatnya, memori kami lantas teringat beberapa tahun silam: keceriaan dan kebahagiaan itu tetap sama, romantis itu tetap tergambarkan.
Tahun 2025, saat Novi di Vancouver, bertemu kawannya bernama Eva yang sudah lama bermukim di sana. Berbagi cerita karena sama-sama berasal dari Solok, dan Eva bercerita ternyata mengenal om Rivai & tante Jus dari kebaikannya, dan terkenang sampai sekarang, meskipun Eva tidak ada hubungan kekerabatan. Novi senang sekali mendengarnya, karena merasa bagian dari circle manusia baik. Tak lupa kekaguman dan contoh nyata atas kebaikan hati om Rivai dan tante Jus yang selalu dikenang di mana pun berada — jauh di mata, dekat di hati.
Pelajaran hidup, teladan, warisan yang ditinggalkan oleh tante Justina Rivai kepada keluarga dan kami: bahwa di balik karakter seorang perempuan, istri, ibu yang lemah lembut, cerdas, berhati mulia, ada sebuah kekuatan dan ketegasan sikap tanpa perlu mengeluarkan banyak kata-kata.
Love always, Nova & Novi — putri dari As Auliena Mahyudin Ranny.
Kenangan bersama Tante Jus, yang selalu teringat adalah waktu kami masih kecil.
Waktu itu hampir setiap bulan puasa (pada saat itu liburan sekolah adalah pada bulan puasa) kami ke Bandung. Tante Jus mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat termasuk mempersiapkan baju baru Lebaran. Beliau tidak hanya mempersiapkan baju Lebaran buat anak-anaknya saja tapi juga buat kemenakan-kemenakan beliau.
Itu salah satu yang sangat berkesan bagi saya.
Depok, 1 Agustus 2026 — Ina Arifin
Tante Justina adalah istri dari paman saya, dr. Abdul Rivai. Ibu saya, Roslita, adalah adik dari dr. Abdul Rivai. Sewaktu kecil, saya tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Tapi kalau libur sekolah saya dengan adik dan kakak sering pergi liburan ke Bandung. Selama liburan, kami tinggal di rumah dr. Abdul Rivai, yang sering kami panggil Mak Etek (paman yang paling kecil).
Saya mengenang Tante Justina sebagai tante yang cantik, baik hati, tulus, penuh perhatian, dan wanita serba bisa. Tante Jus, demikian kami memanggilnya, sangat cekatan dalam mengelola rumah tangga. Pintar memasak, membuat kue, menjahit, dan lain-lain. Salah satu masakan beliau yang paling enak adalah rendang.
Suatu hari sewaktu liburan di Bandung, mungkin sekitar tahun 1975 atau 1976 — kapan persisnya saya lupa — saya sakit demam dan tidak dapat bermain dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Saya hanya bisa tiduran di tempat tidur. Tante Jus lah yang merawat saya sehingga saya sembuh. Kebaikan dan ketulusan beliau, serta senyum ramahnya, merupakan hal yang tidak terlupakan bagi saya.
Saat-saat Lebaran di Bandung pada masa-masa itu juga merupakan saat-saat yang kami tunggu-tunggu, karena pada saat itu kami juga ikut dibelikan baju baru oleh Tante Jus dan Mak Etek. Lebaran di Bandung sangatlah meriah karena Mak Etek dan Tante Jus kedatangan tamu yang sangat banyak. Makanan juga berlimpah. Semuanya enak-enak.
Di hari tuanya Tante Jus tetap terlihat cantik, modis, dan selalu tersenyum ceria. Pertemuan terakhir saya dengan Tante Jus adalah di saat hari Raya Idul Fitri 2026. Kami sempat berfoto bersama pada saat itu. Walaupun terlihat agak letih, tapi keceriaan dan canda beliau seakan tidak pernah hilang.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal ibadah beliau serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Cibubur, 1 Agustus 2026 — Lisa Arifin
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saat mendapat berita duka pada tanggal 11 Mei 2026 — innaalillahi wa innaa ilayhi raaji’uun — sosok wanita (ibu) yang bersahaja, selalu tersenyum, agak pendiam dan tidak banyak berkata-kata akan tetapi sangat perhatian kepada keponakannya, yang selalu beliau berikan, yang biasa kami panggil tante Djus.
Kenangan indah tentang tante Djus yang kami rasakan dimulai pada usia 3–4 tahun, di mana saat itu kami sering berinteraksi dengan tante Djus. Biasanya interaksi dengan tante Djus dilakukan pada saat berkunjung ke rumahnya, di mana dulu tinggalnya masih di Buah Batu. Setiap berkunjung ke rumah di Buah Batu, sambutan tante Djus sangat ramah, baik hati, dan menyenangkan, sehingga kunjungan ke rumah tante Djus adalah saat yang sangat dinanti-nanti.
Pada saat kami SD, tante Djus suka membawa kami jalan-jalan dalam kota maupun luar kota. Kami seumuran dengan putri-putri tante Djus, yaitu Jenny dan Wati. Pada saat berjalan-jalan bersama, kami selalu diperlakukan seperti anaknya sendiri, dan diperlakukan sama dengan anak-anaknya. Jika tante Djus dan keluarga pergi ke toko buku, bioskop, atau Bumi Sangkuriang, kami selalu diajak bersama. Biasanya kami dijemput dan pulangnya diantar lagi ke rumah. Jika kami diajak pergi ke Bumi Sangkuriang, biasanya sudah tersedia minuman green spot yang disimpan di bagasi mobil di dalam cooler box.
Kami juga sering diajak pergi jalan-jalan ke Jakarta, di mana biasanya bersama-sama kami menginap di hotel Hilton. Selama di Jakarta kami sering diajak jalan-jalan ke Ratu Plaza, terutama ke toko buku.
Persepsi lainnya yang kami ingat adalah bahwa tante Djus itu adalah seorang yang sangat rajin dan tekun. Yang kami ingat, tante Djus rajin sekali membuat baju anak-anak dan juga masakan. Baju anak-anak yang dibuat tante Djus bagus sekali modelnya. Sedangkan masakannya luar biasa lezatnya. Yang paling berkesan makanannya adalah sate padang, rendang, tapai lamang, dan juga masakan ayam (namanya lupa). Yang kami rasakan, makanan buatan tante Djus sangat istimewa, terasa sangat enak dan nikmat sekali. Untuk itu kami sering minta resepnya, dan juga meminta diajarkan bagaimana cara memasaknya.
Dari sisi hubungan antar personal, menurut kami tante Djus itu lembut sekali, tetapi di sisi lain tegas. Kedua sifat itu menyatu dengan sangat pas. Yang muncul di hati kami adalah tante Djus yang ramah, baik, dan sangat lembut.
Pertemuan kami terakhir dengan tante Djus yaitu pada saat kami berlebaran dan bersilaturahmi di tahun 2026. Pada saat itu tante Djus sangat segar dan ceria serta banyak bercanda; itulah candaan terakhirnya.
Pada saat tante Djus dirawat di RS, pada tanggal 10 Mei 2026 kami menengoknya dan saat itu beliau sedang tidur. Keesokan harinya, 11 Mei 2026 pagi, kami mendapat dan membaca berita duka dari WA grup.
Allaahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha. Selamat jalan tante Djus, kami di sini hanya bisa mendoakan. Wassalam, kami yang selalu menyayangi — Suzie, Susan, dan Andam.
Cindy: Bagi saya, Tante Jus adalah sosok yang hangat, penuh kasih sayang, dan selalu membuat siapa pun merasa diterima. Setiap kali bertemu, beliau menyambut saya dengan senyum tulus dan pelukan hangat, layaknya pelukan seorang ibu. Sambutan sederhana namun penuh makna itu selalu beliau berikan, bahkan hingga pertemuan terakhir kami. Kenangan itu akan selalu tersimpan di hati.
Saya juga akan selalu mengenang masakan Tante Jus. Setiap hidangan yang beliau sajikan terasa istimewa, bukan hanya karena kelezatannya, tetapi juga karena dibuat dengan penuh cinta. Masakan beliau menjadi ungkapan kasih sayang yang menghadirkan rasa nyaman, kehangatan, dan kebersamaan. Setiap kali mengingat hidangan beliau, yang hadir bukan hanya kerinduan pada masakannya, tetapi juga kerinduan pada sosoknya yang begitu baik dan penuh perhatian.
Adhi: Saya pertama kali bertemu Tante Jus saat berkunjung ke Bandung untuk berkenalan dengan keluarga Mak Etek Rivai. Sejak pertemuan pertama, kami langsung merasakan kehangatan beliau. Beliau menjemput kami sendiri di Stasiun Bandung dan menyambut kami dengan senyum, keramahan, serta perhatian yang membuat saya, meski baru pertama kali bertemu, merasa diterima sebagai bagian dari keluarga.
Beberapa waktu kemudian, ketika saya baru pindah ke Jerman dan masih tinggal sendiri sebelum keluarga menyusul, Mak Etek Rivai dan Tante Jus datang berkunjung. Kunjungan itu menjadi kenangan yang sangat berharga. Tante Jus memberi banyak nasihat dan semangat agar saya tekun bekerja, tabah menjalani kehidupan baru, serta tetap menjaga hubungan dengan keluarga di Tanah Air. Foto kami berdua yang diambil Mak Etek Rivai masih saya simpan hingga hari ini sebagai kenangan yang sangat berarti.
Kepergian Tante Jus meninggalkan duka yang mendalam bagi kami sekeluarga. Namun, kebaikan, kasih sayang, dan perhatian yang beliau berikan akan terus hidup dalam kenangan kami. Kami bersyukur pernah mengenal dan merasakan cinta beliau.
Kami memanjatkan doa semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosa almarhumah, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan serta menerangi alam kuburnya, dan menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya. Semoga seluruh amal saleh, amal jariyah, dan setiap kebaikan yang telah beliau tinggalkan menjadi pahala yang terus mengalir. Kami juga mendoakan semoga Mak Etek Rivai beserta seluruh keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini. Aamiin.
Dresden, Jerman, 2026 — Adhi, Cindy, Dandy, dan Putri
Saya mengenal almarhumah Tante Jus dari kecil karena sering diajak almarhum Papa dan almarhumah Mama ke Cipunagara saat umur saya 3 tahun, sekitar 1976.
Ingatan saya, dulu pernah tinggal sekitar 1 bulan tahun 1992 menjelang UMPTN di Cipunagara, Bandung. Tante Jus ramah dan rajin masak semua makanan di rumah. Kami selalu menunggu panggilan makan yang tentunya rasanya enak, seperti dendeng kering balado, ayam balado, sup, dan lain-lain.
Teringat saat almarhum Papa (1993) dan almarhumah Mama (1999) sakit dan meninggal, almarhumah Tante Jus bersama Mak Etek selalu datang di saat-saat kami kakak beradik mengalami kesedihan yang cukup dalam, sehingga membuat kami cukup tabah menghadapi ketentuan dari Allah SWT. Banyak bantuan yang kami terima, baik moril dan materiil, sehingga kami lima bersaudara tamat menjadi sarjana.
Balik ingatan saya pada awal Januari 2003, lamaran saya dengan istri saya Finny di rumah Cipunagara no. 23: almarhumah Tante Jus dan Mak Etek berperan besar dan berjasa dalam proses lamaran dan pernikahan saya di Bandung, 10 Mei 2003. Sulit saya gambarkan betapa besar jasa almarhumah Tante Jus dan Mak Etek dalam kehidupan saya. Bahkan sampai saat ini kami menitipkan anak kami Salma Latifah saat koas di Bandung. Terakhir, sering almarhumah bercanda ke anak saya Salma.
Terima kasih Tante Jus, selamat jalan, semoga Allah mengampuni segala dosa dan memasukkan ke dalam surga Allah yang indah. Aamiin YRA. Semoga Mak Etek dan keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan ke depan.
Tante Jus… itu tante yang full smile dalam ingatan saya.
Saya Ivonny, sebagai keponakannya yang saat muda punya orang tua yang sakit-sakitan dan meninggal saat kami masih muda, sehingga saya sekolah SMA di Bandung selama 3 tahun dan tinggal di Cipunagara.
Tante Jus menggantikan Mama saya saat ambil rapot, dan waktu awal SMA itu rapot yang saya terima tidak bagus, tapi Tante tetap senyum tenang mendengar guru menasihati. Saat itu saya jadi malu, tapi Tante tidak marah, tetap tenang, hingga jadi spirit buat saya: nanti saya harus lebih bagus nilainya.
Saat kelulusan SMA saya, di mana ayah saya pun sakit berat dan meninggal dunia, Tante pulalah yang menemani saya hadir kelulusan. Orang tua saya bahkan tidak paham kalau anaknya itu perlu apa waktu kelulusan. Tante menyiapkan pakaian wisuda sampai memikirkan bagaimana berdandan ke salon. Bahkan saat saya menikah — saat itu orang tua saya pun akhirnya sudah meninggal dunia dua-duanya — hanya Tante Jus yang menyiapkan kamar pengantin saya, perlengkapan, sampai baju pengantin.
Subhanallah, Tante Jus, banyak hal yang seharusnya ada orang tua saya yang mendampingi tapi beliaulah yang mendampingi, menggantikan orang tua kami. Tante Jus… mungkin budi baik Tante tidak dapat saya balaskan, tapi semoga menjadi amal ibadah baik Tante. Semoga Tante husnul khatimah, aamiin — dan menjadi pemahaman saya bahwa beliau menjadi penerang buat keluarganya.
Vivi, keponakan Tante Justina dan Om Rivai, yang selama 10 tahun tinggal di rumah tante di Cipunagara, Bandung, saat Vivi kuliah dan bekerja (1995–2005), sangat merasakan kehilangan sejak Tante Justina berpulang 11 Mei 2026 lalu.
Selama Vivi di Bandung, Vivi melihat Tante Justina sebagai seorang ibu yang mandiri, baik hati, kuat, dan lembut. Vivi senang melihat Tante memasak masakan Minang dan Vivi ikut belajar masak juga.
Saat Vivi lagi masa-masa sulit menghadapi masalah pribadi, Vivi sering diajak bicara dari hati ke hati untuk mencari solusi jalan keluarnya. Tante juga sabar menghadapi kenakalan Vivi yang saat itu masih remaja.
Saat Vivi mau menikah, Tante Justina menolong Vivi untuk menyiapkan barang seperti karpet yang banyak, perlengkapan, dan pakaian untuk pernikahan. Tante sudah seperti ibu bagi Vivi sendiri selama tinggal di Bandung.
Vivi tidak bisa membalas kebaikan Tante Justina dan Om Rivai. Vivi hanya bisa berdoa untuk Tante, agar Allah SWT melapangkan jalan-Nya dan menerima semua amal kebaikan Tante selama beliau masih hidup. Semoga kebaikan beliau dicatat sebagai amal jariah yang akan terus mengalir setelah beliau wafat. Aamiin YRA. — Salam sayang, dari Vivi
Vinky, keponakannya Tante Jus. Vinky mengenal Tante Jus sejak masih kecil, waktu itu ketika liburan ke Bandung. Keingat di sana biasanya setiap kamar selalu rapih dan barang-barang disusun oleh Tante dengan rapih; kalau libur hari raya Idul Fitri ada kastengel di setiap kamar.
Namun Vinky lebih banyak mengenal, dan waktu tinggal di sana, sejak SMA sampai kerja, dari tahun 1993 sampai 2000. Tante Jus selalu baik, ramah, rajin, dan suka bantuin serta mengantar Vinky pakai mobil ke sekolah tanpa pamrih. Vinky suka dianter ke sekolah khususnya pas ambil rapot, dan Vinky pernah ikut belanja-belanja juga bersama Andika ke supermarket, Badranaya.
Ketika waktu makan yang ditunggu, Vinky suka dipanggil Tante untuk makan. Makanan banyak sekali, makanan yang Vinky suka: rendang, dendeng, ayam, pepaya pakai susu murni dan madu — tapi ada satu yang paling disuka, ayam cabe hijau, sampai keinget terus. Tante pernah buatin khusus buat Vinky ayam cabe hijau karena tahu Vinky suka itu.
Ketika pembagian rapot, walau nilai Vinky kurang baik, Tante selalu baik dan mendukung, percaya ke Vinky sehingga membuat yakin kalau Vinky bisa untuk lebih baik.
Banyak pelajaran yang Vinky ambil dari Tante Jus, yaitu kesabaran, rajin, dan melakukan sesuatu tanpa pamrih; semoga Vinky juga selalu dapat berusaha menerapkan hal tersebut di keluarga. Tante seperti ibu sendiri ketika Vinky di Bandung dan ketika mama Vinky sudah tidak ada.
Banyak kebaikan Tante Jus dan Om Rivai kepada Vinky yang tidak bisa Vinky balas; hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat membalas kebaikan Tante Jus dan Om Rivai. Semoga Tante Jus diampuni segala dosa-dosanya, diterima segala amal kebaikannya, dan dimasukkan ke dalam surga. Aamiin ya Rabbal ’alamiin. Serta Mak Etek dan keluarga diberikan selalu kesehatan, ketabahan, dan kesabaran. — Salam sayang dari keponakan, Vinky
Kenangan Dede tentang almarhumah Tante Jus dari Dede kecil, awal ketemu di Cipunagara. Setiap Dede ke Bandung waktu kecil, yang paling diingat, Tante Jus itu masakannya enak banget seperti masakan restoran. Yang paling Dede suka itu rendang buatan Tante Jus.
Tante Jus itu, yang Dede lihat, sosok yang cantik, anggun, dan elegan. Jadi nggak banyak omong tapi baik ke semuanya. Jadi inspirasi buat orang yang ngelihat untuk bisa secantik dan seelegan Tante Jus.
Kalau ke Bandung selalu nggak sabar untuk mencoba masakan Tante Jus. Kami sekeluarga selalu disuguhi makanan enak oleh Tante Jus.
Semoga Tante Jus bahagia di surganya Allah. Terima kasih Tante Jus sudah menginspirasi buat Dede dan setiap orang. Mak Etek dan keluarga pasti bangga memiliki sosok seperti Tante Jus. Semoga Mak Etek dan keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan, dan selalu membawa kenangan indah bersama Tante Jus.
Ilham memanggil beliau dengan sebutan Mak tuo / Mak uwo kalau bahasa Selayo, karena beliau adalah kakak paling tertua dari papa yang dituakan di rumah gadang.
Mak tuo / Mak uwo adalah seorang ibu yang sangat mempunyai peran penting dalam keluarga; beliau mempunyai integritas tinggi dan sangat bertanggung jawab sama keluarga.
Sosok beliau sangat kami banggakan. Kehadiran beliau sangat kami tunggu-tunggu di Selayo. Waktu kami kecil, betapa bahagianya kami begitu mendengar kabar bahwa Mak uwo pulang ke Selayo — rasa hangat, terharu, di mana kami pergi menjemput beliau ke Bandara Tabing di kota Padang dengan sangat bahagia. Dan yang paling ditunggu itu adalah oleh-oleh: makanan, baju, mainan-mainan, selalu beliau bawakan waktu beliau pulang ke Selayo. Mak uwo selalu mengirimkan baju Lebaran ke Selayo tiap kali Lebaran pada kami.
Mungkin ini baru sedikit cerita kami; banyak kenangan bersama Mak uwo yang tidak bisa diceritakan. Beliau adalah sosok ibu yang tegas dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Selamat jalan Mak uwo, kami akan selalu mendoakan Mak uwo.
Mak Tuo adalah sosok yang penuh kasih sayang, sabar, dan selalu mengutamakan keluarga. Beliau memiliki cara sederhana untuk menunjukkan cinta, sehingga kehadirannya selalu membawa rasa nyaman bagi kami.
Kenangan yang paling berkesan adalah momen Mak Tuo pulang ke Selayo: beliau selalu membawakan oleh-oleh cokelat Toblerone untuk kami, dan saat makan bersama beliau selalu memberi perhatian kecil yang membuat kami merasa dicintai.
Dari Mak Tuo, saya belajar tentang kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur. Nasihat beliau untuk selalu menjadi orang baik, menghargai sesama, dan tidak mudah menyerah masih saya pegang hingga sekarang. Beliau memberikan pengaruh besar dalam membentuk karakter saya.
Warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukanlah harta, melainkan teladan hidup yang penuh kasih dan ketulusan. Nilai-nilai itu akan terus kami jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya.
Jika diberi kesempatan, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segala kasih sayang, doa, dan pengorbanan yang telah diberikan. Kami sangat merindukan Mak Tuo dan akan selalu mengenang beliau dalam hati.
Setiap kali mengingat masakan, doa, senyum, dan perhatian beliau, saya sadar bahwa cinta yang tulus tidak pernah benar-benar hilang. Mak Tuo akan selalu hidup dalam setiap kenangan dan nilai-nilai yang beliau tinggalkan.
Saya dan adik-adik, Dhea, Gampo, dan Ayu, semua dititipkan Mama dan Bapak di rumah Patuo dan Matuo saat SMA di Bandung karena Bapak bertugas berpindah-pindah. Kenangan saya atas almarhumah Matuo adalah: Matuo selalu terlihat cantik, tersenyum, dan jago sekali masak.
Matuo selalu terlihat muda di mata saya. Selalu tampak sederhana namun elegan. Saya selalu senang dengan penampilan Matuo yang sehari-hari menggunakan kemeja dan jeans. Matuo juga selalu menjaga kesehatan dengan menyempatkan diri senam Jane Fonda di pagi hari dan menjaga makanan — Matuo tidak pernah makan nasi di malam hari. Beliau adalah salah satu inspirasi saya untuk menjadi perempuan yang selalu bisa menjaga dirinya di masa depan.
Matuo juga ceria, apalagi kalau nonton bola. Teriak bahagianya menggema seantero rumah kalau ada gol. Juga kalau pas Mama saya main ke Bandung dan berdua penuh tawa saling bercerita.
Matuo juga sangat menyayangi Patuo dan anak-anaknya. Saya ingat Matuo selalu mengantar Patuo ke garasi untuk pergi kerja, selalu antar-jemput Andika. Perhatiannya pun bahkan juga penuh pada kami, keponakan-keponakan beliau. Beliau bahkan pernah menemani saya tidur di kamar saya saat saya sedang ketakutan tidur sendiri.
Tapi tentunya yang juga paling teringat adalah masakan Matuo. Favorit saya daging belado Matuo. Juga es ketimun saat bulan Ramadhan. Sampai saat ini saya selalu membuat es ketimun ala Matuo setiap bulan Ramadhan.
Terima kasih, Matuo, sudah menjadi inspirasi bagi saya dan adik-adik. Sampai ketemu lagi Matuo di surga Allah SWT. Aamiin YRA.
Seingat kami, pertama kali mengenal Uni Jus ketika Uni Jus pindah ke Bandung bersama Bung Rivai. Kami mengenal Bung Rivai semasa kuliah di FKUI, tinggal di rumah ibu kami di Jakarta. Kami suka mengadakan kegiatan bersama, antara lain main tenis meja sampai tengah malam, layaknya keluarga.
Ketika sudah tamat jadi dokter dan kembali dari Jerman, dan saya kembali dari Italia, kami dipertemukan kembali di Bandung, dan di situlah kami berkenalan dengan Uni Jus di hotel tempat tinggal keluarga Bung Rivai. Pertama kali kami terkesan, seakan kami bertemu dengan Bundo Kanduang yang sebenarnya — yang taat dan patuh.
Kenangan indah akan Uni Jus yang tak akan dapat dilupakan: Uni Jus berhati lembut, bicaranya dan ucapannya pun selalu lemah lembut, selalu bersikap tenang, ramah dan perhatian terhadap siapa pun, membuat kami selalu merasa Uni Jus dan Bung Rivai menjadi bagian dari keluarga kami.
Uni Jus selalu mengulurkan tangan ketika kami tertimpa musibah. Yang paling kami ingat: ketika itu saya sedang dinas di luar negeri, terjadi kecelakaan yang menimpa anak ketiga kami yang ketika itu masih kelas 3 SD. Pagi-pagi sedang berjalan kaki berangkat ke sekolah sendirian karena tertinggal kakak-kakaknya, tiba-tiba dari belakang ditabrak sepeda tanpa rem sampai pingsan. Karena jatuhnya ke jalan aspal, jadi luka berdarah di bagian mukanya, hidungnya berdarah, dan empat gigi depannya hampir tanggal.
Dengan bantuan tetangga, kami membawanya ke IGD RS Borromeus, tetapi sampai di Borromeus waktu itu dr. Abdul Rivai sedang takziah. Lalu Uni Jus tiba untuk membantu kami, mengurus sampai selesai pengobatan, dan dengan menyetir sendiri Mercedes Bung Rivai yang terkenal itu, mengantar kami pulang ke rumah. Esok harinya Uni Jus menjemput dan mengantar kami, menyetir sendiri, ke tempat praktek dr. Abdul Rivai di Buah Batu, dan kemudian mengantar untuk konsul ke dokter gigi di sana juga — sekali lagi dengan menyetir sendiri. Begitulah Uni Jus menjemput dan mengantar kami sampai selesai pengobatan anak kami, atas inisiatif sendiri, tanpa diminta.
Ya Allah, kami hanya bisa mendoakan Uni Jus. Semoga semua kebaikan Uni Jus mendapat pahala kebaikan berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin insyaa Allah. Kami pun mendoakan semoga Allah Ta’ala memberkahi Uni Jus kedamaian, ketenangan, dan tempat terindah di hadirat-Nya. Aamiin ya Rabbal ’alamiin.
Selanjutnya sepeninggal Uni Jus, kami mendoakan semoga Allah Ta’ala memberkahi Bung Rivai sekeluarga kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan, serta mendapat pahala kebaikan di dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal ’alamiin.
Sahabat & tetangga
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga uni Justina Rivai ditempatkan yang mulia di sisi Allah SWT. Aamiin YRA.
Saya kenal dengan uni Jus — sapaan saya kepada beliau — sudah lama sekali. Kami, keluarga Muhammad Ansjar dan keluarga dr. Rivai, sudah berteman sejak saya baru menikah pada tahun 1969. Suami saya dengan uda Rivai berteman sejak SMA di Padang.
Sejak itu saya berteman baik dengan uni Justina. Kami juga sama-sama menjadi anggota Bumi Sangkuriang, sering bertemu pada acara-acara di Bumi Sangkuriang. Pertemanan bertambah intens ketika kita menjadi anggota arisan MEOK, di mana anggotanya keluarga Minang di Bandung. Kami hampir setiap bulan bertemu menghadiri arisan Meok ini.
Saya sangat terkesan dengan uni Jus: kesederhanaan beliau, berpakaian yang selalu elegan, baik hati, suka ketawa — walaupun uni Jus agak pendiam, sebetulnya juga tidak pendiam sekali.
Terakhir saya bertemu, kami ngopi di Noah’s Barn pada bulan September 2025, tentunya dengan uda Rivai yang selalu ke mana-mana berdua, tidak terpisahkan. Waktu itu uni Jus kadang-kadang mulai suka agak lupa, tapi saya sangat surprise waktu saya tanya, “Uni masih ingat saya?” Lalu dengan spontan beliau menjawab, “Wirda.” Alangkah senangnya saya, uni Jus yang kami sayang masih ingat ke saya.
Ada satu lagi kesan dengan almarhumah: kalau lagi makan di restoran selalu pesan makanan sehat, yaitu seringnya pesan ikan salmon — bisa steak salmon, pokoknya ikan salmon.
Demikian kesan-kesan saya sekilas kepada beliau. Akhir kata yang bisa saya sampaikan: selamat jalan uniku sayang.
Kenangan dari sahabat untuk Zus Djus terkasih.
Kuingat jelas… kehangatan tulus, penuh kedamaian, dengan senyum lembut terpancar kasihmu di saat-saat kita saling mengobrol bertemu. Dengan suami, Amancu tercinta, yang tak pernah engkau beda-bedakan. Semua terasa damai, indah, penuh cinta.
Waktu yang Allah berikan dalam kebersamaan di dunia fana… sudah cukup bagi Allah Yang Mahakuasa.
Selamat jalan sahabat terkasihku yang kubanggakan. Doa terbaik kukirim menyiringi kepulanganmu. Amin.
Pada Desember 1969, saya diantar oleh kedua orang tua dari Padang ke Bandung untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Sejak saat itu saya tinggal bersama keluarga Om Rivai dan Tante Jus di Jalan Buah Batu No. 43. Di rumah itu tinggal pula tiga anak mereka, serta kakek dan nenek Om yang kami panggil Angku dan Anduang. Kehangatan keluarga besar inilah yang menjadi rumah kedua bagi saya selama menempuh pendidikan hingga lulus sebagai dokter pada tahun 1977.
Tante Jus adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara. Hari-harinya dicurahkan sepenuhnya untuk keluarga. Beliau sangat memperhatikan suami dan anak-anaknya. Walaupun ada pembantu rumah tangga, urusan makan dan kebutuhan keluarga tetap beliau awasi dengan penuh kasih. Karena pandai menjahit, pakaian anak-anak pun sering beliau jahit sendiri.
Kebersamaan dalam keluarga terjalin melalui makan siang dan makan malam bersama. Saat-saat itulah berbagai hal penting dibicarakan. Selama tinggal bersama, saya hampir tidak pernah mendapat teguran ataupun nasihat khusus. Mungkin karena sebagai mahasiswa saya dipandang telah dewasa dan dapat menjaga diri, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Bahkan saya nyaris tidak pernah diberi tugas rumah, selain sesekali menjemput Jenny dan Wati dari Sekolah BPI di Jalan Burangrang dengan becak.
Tante Jus jarang bercanda. Jika gembira, beliau cukup menunjukkan senyumnya yang hangat. Saya masih ingat, beliau pernah tertawa ketika saya menyanyikan lagu anak-anak berbahasa Tamil bercampur Inggris yang saya pelajari saat masa orientasi mahasiswa. Beliau juga memiliki jiwa seni; ketika tinggal di Cipunagara, beliau tekun mengikuti les piano, meskipun saya jarang mendengar beliau bernyanyi.
Setelah lulus dan mulai bertugas sebagai dokter di berbagai kota, pertemuan saya menjadi semakin jarang. Saya baru sering bertemu kembali setelah saya pensiun dan kembali ke Bandung. Pertemuan terakhir terjadi saat Tante Jus jatuh sakit. Fisiknya telah lemah dan beliau tidak lagi mau makan maupun minum. Setelah sehari dirawat di rumah sakit, datanglah kabar duka bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah.
Kepergian beliau membangkitkan kembali kenangan akan segala kebaikan dan kasih sayang yang saya terima selama menjadi mahasiswa kedokteran di Bandung. Semua itu akan selalu saya kenang dengan penuh syukur.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Semoga Allah SWT menempatkan Tante Jus di tempat terbaik di sisi-Nya dan melimpahkan kesabaran kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Aamiin ya Rabbal ’alamin.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu, keluarga besar, sahabat, dan para pelayat yang saya hormati.
Hari ini saya berdiri di sini dengan hati yang penuh duka, namun juga penuh rasa syukur karena pernah mengenal dan menjadi bagian kecil dari kehidupan almarhumah Tante Jus.
Ketika saya diterima kuliah di ITB, ibu saya menghadapi sebuah kenyataan yang tidak mudah. Seorang anak yang selama ini berada di dekatnya harus merantau ke kota lain untuk menempuh pendidikan. Sebagai seorang ibu tentu ada rasa khawatir dan cemas. Namun di saat itu hadirlah sosok yang memberi ketenangan bagi beliau, yaitu Tante Jus dan Om Rivai.
Saya masih ingat bagaimana ibu saya menitipkan saya kepada Tante Jus dan Om Rivai. Titipan itu bukan sekadar menitipkan tempat tinggal, tetapi menitipkan seorang anak yang sedang belajar mandiri dan mencari masa depannya. Dan saya percaya, ibu saya dapat merasa tenang karena beliau sangat mengenal pribadi Tante Jus.
Hubungan Mama, Tante Jus, dan Om Rivai bukan hanya hubungan keluarga, tetapi hubungan yang dibangun dengan rasa saling percaya, saling menghormati, dan saling menyayangi selama bertahun-tahun. Saya melihat sendiri bagaimana mereka selalu menjaga komunikasi dan perhatian satu sama lain. Ada ikatan yang begitu tulus di antara mereka.
Selama saya tinggal di rumah Tante Jus dan Om Rivai, saya merasakan kasih sayang yang luar biasa. Saya tidak pernah diperlakukan sebagai tamu dan diterima sebagai bagian dari keluarga. Di tengah kesibukan kuliah yang seringkali melelahkan dan penuh tekanan, rumah Tante Jus dan Om Rivai menjadi tempat saya pulang, beristirahat, dan mendapatkan kehangatan yang mengingatkan pada rumah ibu saya.
Tante Jus adalah pribadi yang sangat ramah. Senyumnya selalu membuat suasana menjadi hangat. Beliau memiliki cara sederhana namun begitu bermakna dalam menunjukkan perhatian kepada keluarga. Beliau selalu memastikan bahwa orang-orang di sekitarnya merasa nyaman dan diperhatikan. Sementara itu Om Rivai juga menjadi sosok yang sangat baik bagi saya. Kehadiran beliau melengkapi suasana kekeluargaan yang saya rasakan selama tinggal bersama mereka. Dari keduanya saya belajar tentang kebaikan, kesederhanaan, serta ketulusan dalam menerima orang lain.
Kini, ketika saya mengenang masa-masa itu, saya menyadari bahwa apa yang diberikan Tante Jus dan Om Rivai kepada saya bukanlah sesuatu yang kecil. Mereka telah membantu seorang anak muda menjalani masa penting dalam hidupnya. Mereka telah memberikan rasa aman kepada ibu saya yang berada jauh dari anaknya. Dan mereka telah menunjukkan bahwa keluarga bukan hanya tentang hubungan darah tetapi juga tentang kasih sayang dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Saya juga membayangkan, jika ibu saya masih ada, betapa beratnya kehilangan ini bagi beliau. Beliau kehilangan bukan hanya seorang saudara atau sahabat tetapi seorang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Namun saya yakin kenangan tentang kebaikan Tante Jus akan selalu hidup dalam hati ibu saya, sebagaimana hidup dalam hati saya.
Atas nama pribadi dan keluarga, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tante Jus. Terima kasih karena telah menerima saya di rumah beliau dengan begitu tulus. Terima kasih atas perhatian, doa, kasih sayangnya, dan segala kebaikan yang tidak mungkin dapat saya sebut dan balas satu per satu. Terima kasih juga kepada Om Rivai yang telah bersama-sama dengan Tante Jus menciptakan rumah yang penuh kehangatan bagi saya selama menempuh pendidikan di Bandung.
Selamat jalan Tante Jus. Kebaikan, keramahan, dan kasih sayang Tante akan selalu kami kenang. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilaf dan kekurangannya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkan Tante Jus di tempat terbaik di sisi-Nya.
Tante Jus mungkin telah berpulang tetapi kebaikan dan cinta yang beliau tinggalkan akan terus hidup dalam hati kami selamanya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. — Jodi Firmansyah dan keluarga
Ada satu kenangan bersama almarhumah Uni Jus yang hingga kini selalu membekas di hati saya.
Saat saya tinggal di Bandung bersama Uni Jus sekitar tahun 1989–1992, saya melihat sendiri betapa beliau sangat menyayangi tanaman. Beliau begitu rajin merawat dan menata bunga-bunga di dalam pot-pot yang indah. Halaman rumah selalu tampak asri karena ketelatenan dan kecintaannya pada tanaman.
Suatu sore, saya sedang asyik bermain tenis meja. Karena terlalu bersemangat, tanpa sengaja saya menyenggol salah satu pot bunga. Braaak…! Pot itu pecah dan bunga-bunganya berantakan. Saat itu saya sangat ketakutan. Dalam pikiran saya, pasti saya akan dimarahi karena pot yang dirawat dengan penuh kasih itu telah rusak.
Namun, saya sadar harus jujur. Setelah makan malam, dengan memberanikan diri saya mengakui kejadian tersebut dan meminta maaf kepada Uni Jus. Di luar dugaan saya, beliau sama sekali tidak marah. Beliau hanya tersenyum dengan wajah yang penuh ketenangan, lalu berkata, “Nanti kita cari gantinya.”
Senyum, keramahan, dan kebesaran hati beliau saat itu begitu membekas dalam ingatan saya. Dari kejadian sederhana itu, saya belajar tentang arti memaafkan, ketulusan, dan kasih sayang. Hingga hari ini, kenangan itu masih hidup di hati saya dan menjadi salah satu alasan mengapa sosok almarhumah Uni Jus akan selalu saya kenang dengan penuh rasa hormat dan kasih.
Ada satu kesan lain yang sangat membekas di hati saya selama mendampingi almarhumah Uni Jus dalam menjalani pengobatan. Selama kurang lebih dua setengah tahun terakhir, kami cukup sering bertemu karena saya berkesempatan mendampingi beliau menjalani kontrol rutin di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Kebetulan saya diminta membantu mulai dari pendaftaran online, menemani saat kontrol, hingga mendampingi beliau berkonsultasi dengan para dokter, di antaranya dr. Sunu Budi Raharjo, Prof. Amiliana M. Soesanto, dan dr. Eka Harmaiwaty.
Yang paling saya kagumi adalah semangat beliau untuk terus berobat dan berjuang demi kesehatannya. Di setiap kunjungan, saya tidak pernah melihat beliau mengeluh ataupun menunjukkan rasa lelah. Sebaliknya, beliau selalu datang dengan semangat, sabar menjalani setiap proses, dan tetap tersenyum menghadapi semua yang dijalaninya.
Sikap beliau mengajarkan saya bahwa kekuatan hati, kesabaran, dan semangat untuk terus berjuang merupakan teladan yang luar biasa. Kenangan mendampingi beliau dalam masa-masa itu akan selalu saya simpan sebagai pelajaran berharga tentang ketegaran, ketulusan, dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
Dan tiba waktunya: Rabu, 22 April 2026, jam 15.15 WIB, adalah waktu dan tanggal terakhir kami bertemu, dalam rangka menemani ke kantor notaris. Setelah 19 hari berikutnya kami berpisah untuk selama-lamanya.
Selamat jalan Uni Jus. Semoga almarhumah Uni Jus mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Yang Maha Esa. Kebaikan, kelembutan hati, dan senyumnya akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan karena sering berbincang, melainkan karena keteladanan yang mereka tinggalkan. Bagi saya, salah satunya adalah Ibu Justina Riva’i, atau yang akrab saya panggil Anduang.
Saya bertemu dengan Anduang dan Angku Riva’i, suami Anduang, pada akhir tahun 1996, ketika pertama kali merantau ke Kota Bandung untuk bekerja sebagai perawat di RS Santo Borromeus. Sebelumnya saya hanya mengenal beliau dari cerita ibu saya dan kedua kakak saya yang telah merantau juga ke Bandung. Pertemuan itu menjadi awal dari sebuah hubungan yang, menurut saya, jauh melampaui dari ikatan keluarga.
Secara silsilah, hubungan kami berasal dari pihak ayah Ibu Justina yang beradik-kakak dengan nenek kandung saya. Namun yang paling saya rasakan bukanlah hubungan kekerabatan itu, melainkan rasa diperhatikan dan disayangi melalui tindakan-tindakan kecil yang beliau lakukan. Anduang bukan tipe orang yang banyak berbicara. Beliau lebih memilih menunjukkan kasih sayangnya lewat perbuatan.
Saya masih mengingat satu peristiwa pada tahun 1997. Saat itu saya memberanikan diri mengikuti lomba lagu Minang yang diadakan di kampus ITB. Saya sangat gugup. Peserta lain adalah mahasiswa-mahasiswa yang sudah percaya diri dan tampil meyakinkan, sementara saya tidak memiliki pakaian maupun aksesori yang layak untuk tampil di atas panggung. Keresahan saya itu saya sampaikan kepada Angku dr. Riva’i, yang memang setiap hari bertemu dengan saya di tempat praktek dokter di Jalan Buah Batu.
Tanpa banyak bertanya, Anduang meminta saya datang ke kediaman beliau di Cipunagara. Sesampainya di sana, beliau sudah menyiapkan satu set pakaian lengkap: kain songket terbaik berwarna hijau berbenang warna silver dan baju kurung berwarna peach, lengkap dengan kembang goyang hiasan rambut atau sanggul. Tidak ada nasihat panjang, tidak ada kata-kata penyemangat yang berlebihan. Hanya sebuah tindakan sederhana yang membuat saya merasa didukung sepenuh hati.
Sejak saat itu saya memahami satu hal tentang Anduang. Beliau adalah sosok yang peduli, dan kepeduliannya selalu diwujudkan dalam tindakan. Jika ada kalimat yang paling menggambarkan beliau, mungkin adalah: less talk, do more.
Kami memang tidak sering mengobrol. Kesibukan saya bekerja menjadi salah satu alasannya, ditambah lagi Anduang bukan orang yang banyak bicara. Namun ada satu kenangan yang selalu membuat saya tersenyum. Setiap Hari Raya Idulfitri, Anduang selalu memasak hidangan khas Minang yang luar biasa lezat. Karena penasaran, saya mengikuti beliau ke dapur sambil terus bertanya tentang resep dan cara memasaknya. Beliau hanya tersenyum tipis, lalu berkata singkat, “Caliak sajo lah.” Artinya, lihat saja.
Tidak ada resep tertulis. Tidak ada takaran yang dijelaskan. Saya hanya diminta mengamati. Hari ini, setiap kali orang memuji dendeng kering buatan saya, saya selalu teringat Anduang. Ternyata saya belajar memasak dari seorang guru yang mengajar tanpa banyak kata.
Terima kasih, Anduang dan Angku. Semoga segala kebaikan yang telah Anduang dan Angku tanam menjadi amal yang terus mengalir. Semoga Allah SWT menempatkan Anduang di tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Al-Fatihah.
Sejak tahun 1999 kami mulai menjadi warga Cipunagara. Pertemuan kami dengan almarhumah Ibu Rivai terjadi pada saat saya diajak oleh almarhumah Bu Soetikno — yang saat itu mendampingi almarhum Pak Soetikno (Ketua RT) — untuk bergabung dalam grup Arisan Dharma Wanita yang sudah berdiri sejak tahun 1970.
Kesan pertama ketika bertemu almarhumah Bu Rivai adalah seorang ibu yang menjaga etika, sopan santun, rendah hati, dan ramah. Itu semua tercermin dari tutur kata dan bahasa yang membuat kami nyaman serta merasa diterima sebagai warga baru di Cipunagara.
Selanjutnya, almarhumah Bu Rivai juga menunjukkan perhatiannya terhadap organisasi. Hal ini terlihat pada saat kepengurusan RT ketika membutuhkan bendahara, tidak ada yang bersedia. Namun, almarhumah Bu Rivai bersedia memikul tanggung jawab sebagai bendahara RT bersama almarhumah Bu Lidia dengan sangat baik.
Hal lain yang ingin kami sampaikan adalah sifat almarhumah yang penuh perhatian dan peduli kepada warga yang mengalami sakit. Bahkan pernah kami bersama almarhumah Bu Rivai menjenguk warga yang sedang sakit di Jakarta, yaitu almarhumah Bu Lidia dan almarhumah Bu Arie, di mana seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh beliau secara pribadi.
Almarhumah Bu Rivai juga beberapa kali menyediakan tempat kediamannya untuk acara temu warga, seperti rapat, halalbihalal, bahkan hingga pemilihan Ketua RT. Dalam setiap kegiatan RT 04, almarhumah selalu hadir ditemani suami tercinta, Bapak dr. Rivai. Bapak Rivai sangat perhatian dan setia mengurus almarhumah.
Namun di sisi lain, kami mencatat bahwa almarhumah tidak ingin menyusahkan warga Cipunagara. Di kala beliau sedang sakit, tidak ada berita yang terdengar tentang kondisi almarhumah saat sakit.
Dari sekilas kenangan tersebut di atas, kiranya pantas almarhumah Bu Rivai menjadi panutan kami karena: dengan sikap, tutur kata, dan bahasanya mengayomi kami semua, tua dan muda; perhatian kepada warga yang mengalami musibah atau cobaan; berperan aktif dalam kegiatan warga di lingkungan RT Cipunagara; dan dalam setiap kesempatan tidak ingin menunjukkan keadaan kesehatannya kepada kita semua.
Akhir kata, kami kehilangan seorang sosok warga yang pantas dijadikan contoh dan panutan. Kami hanya dapat mengantar kepergian almarhumah dengan doa, semoga semua amalan, ibadah, dan keimanannya bisa menjadi bekal bagi almarhumah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Aamiin.
Senyum Yang Tak Pernah Pudar di Cipunagara
Pertama kali aku bertemu Tante Jus adalah ketika nama-nama peserta yang lulus UMPTN diumumkan dan aku dinyatakan diterima di Universitas Padjadjaran, Bandung. Waktu itu aku, Mamaku, dan kakakku Iwan datang ke Bandung, dan menginap beberapa hari di rumah Cipunagara. Tante Jus dan Om Rivai menyambut kami dengan hangat — seperti menyambut keluarga sendiri.
Sejak saat itu, Cipunagara bukan sekadar alamat singgah, melainkan rumah kedua. Hampir setiap akhir pekan, atau di sela-sela jadwal kuliah di kota Bandung — sementara kampus utamaku di Jatinangor — aku selalu mencari waktu untuk mampir ke sana.
Almarhumah Tante Jus adalah salah satu perempuan yang membentuk caraku memandang kehidupan. Di zamannya, beliau adalah ibu rumah tangga modern: setia mengurus keluarga, tetapi tak pernah lupa merawat diri dan menjaga kesehatan dengan olahraga.
Tante juga perempuan yang sangat pintar di dapur. Setiap aku menginap, selalu ada saatnya kami duduk bersama menyantap masakan beliau. Bagiku yang kala itu anak kos dengan menu warung setiap hari, makanan Tante adalah kemewahan tersendiri. Tapi yang paling membekas, yang sampai sekarang masih terkenang di lidah dan di hati, adalah dendeng kering buatannya. Garing, gurih, penuh cinta. Aku masih ingat betul, Tante punya buku resep yang selalu dibuka sebelum memutuskan masakan apa yang akan menghiasi meja makan hari itu.
Pada tahun-tahun antara 1991 hingga 1997, saat aku masih rutin bolak-balik ke Cipunagara, rumah itu sering menjadi saksi bisu dari berkumpulnya sanak saudara dari Selayo, dari Solok Sepakat. Ada buka bersama, ada halalbihalal, ada tawa dan doa yang memenuhi ruang-ruang rumah. Dan di setiap peristiwa itu, Tante Jus selalu menyajikan hidangan masakannya sendiri, dengan ikhlas dan tulus.
Namun yang paling istimewa dari almarhumah Tante Jus bukanlah masakannya. Bukan juga keterampilannya mengurus rumah. Yang paling istimewa adalah keramahan dan kehangatannya yang tulus. Beliau tidak banyak bicara, tapi senyumnya selalu manis, selalu menenangkan. Senyum itulah yang membuatku merasa aman, merasa nyaman, merasa aku punya tempat pulang di kota asing.
Tante Jus bukan hanya kerabat. Bagiku, beliau adalah ibuku di Bandung.
Anduang — dan juga Angku — telah membantu mengangkat saya dari titik terendah dalam hidup saya.
Tahun 1995, di tahun ini saya sudah dua kali gagal masuk perguruan tinggi negeri dan juga dua kali gagal masuk AKABRI. Untuk masuk perguruan tinggi swasta tidak memungkinkan buat saya karena ketiadaan biaya; tidak ada yang bersedia membiayai kuliah saya di PTS. Bapak saya sudah lama meninggal sejak saya kelas lima SD, dan ibu saya seorang janda yang pekerjaannya berjualan kue onde-onde dan jajanan anak sekolah SD di depan rumah kami. Ibu harus membiayai kakak saya yang sedang kuliah di sebuah PTN di Bandung, dan adik saya juga sedang sekolah.
Kemudian saya datang kepada Anduang (dan Angku), untuk menumpang tinggal di rumah beliau di Jalan Buah Batu No. 40 Bandung, karena saya mau ikut bimbingan belajar masuk PTN di tahun 1996 — kesempatan terakhir saya untuk bisa kuliah di PTN. Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, Anduang (dan juga Angku) langsung memberi saya izin untuk numpang tinggal gratis di rumah beliau tersebut selama bimbel. Bukan itu saja, bahkan beliau juga mensupport biaya hidup saya selama di sana, di mana di rumah yang sama kakak saya sudah lebih duluan menumpang tinggal di sana selama kuliah di Bandung dan juga di-support kebutuhannya oleh Anduang dan Angku.
Setahu saya, ada puluhan orang yang sudah pernah menumpang tinggal di rumah Anduang dan Angku secara bergantian, baik yang di Buah Batu maupun yang di Jalan Cipunagara.
Alhamdulillah, berkat kemurahan beliau berdua dan kuasa Allah, tahun 1996 saya lulus masuk Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Saat ini sudah 22 tahun lebih saya jadi dokter dan berpraktek mandiri. Saya berupaya untuk selalu mengingat dan juga melanjutkan kebaikan yang telah dicontohkan oleh Anduang bersama Angku, sesuai versi dan kemampuan saya sendiri. Anduang dan Angku telah mengajarkan saya tentang kemurahan hati dalam berbagi, khususnya kepada kalangan keluarga, yang dekat maupun jauh.
Alhamdulillah saya telah ikut membantu membiayai sekolah dan kuliah beberapa orang dari kalangan keluarga kami sampai saat ini, dan juga telah melaksanakan bakti sosial sunatan massal (bekerja sama dengan banyak pihak) beberapa kali di dua nagari, Selayo dan Gantuang Ciri. Saya menceritakan ini tidak bermaksud ria, namun sebagai pemacu semangat berbagi yang telah dicontohkan Anduang dan Angku — khususnya bagi yang pernah beliau bantu, jangan sampai kebaikan beliau terhenti di kita; mari kita teruskan, lanjutkan, khususnya buat keluarga kita sendiri, nagari, dan orang banyak, sesuai kapasitas kita masing-masing.
Anduang dan Angku tidak merasa perlu melakukan “wawancara panjang” terhadap saya. Tidak jadi soal bagi beliau bahwa saya belum pernah bertemu beliau sebelumnya, tahu-tahu muncul di hadapan beliau untuk memohon pertolongan beliau. Cukup nasihat dan motivasi singkat dari beliau berdua dan — yes! — saya resmi jadi tanggungan beliau saat itu di sana, tanpa syarat apa pun.
Kenapa bisa begitu? Saya rasa jawabannya adalah: karena Anduang dan Angku punya hati yang bening, yang dianugerahi oleh Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang sangat faham bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, apalagi yang membutuhkan, dan sangat mengerti bahwa menolong orang lain sejatinya adalah menolong diri sendiri.
Semoga semua kebaikan Anduang dibalas Allah dengan balasan berlipat ganda, Anduang diberi tempat terbaik di sana dan Anduang senantiasa berbahagia di sana. Dan semoga Anduang dan seluruh keluarga besar beserta kita semua nantinya dikumpulkan dan dipertemukan lagi oleh Allah dalam surga-Nya, dan semoga semua kebaikan Anduang terus berlanjut dan menular ke anak, cucu, cicit, dan kita semua, sampai akhir zaman. Aamiin YRA.
Etnis Minang dikenal dengan rasa persaudaraannya yang kuat, mulai dari keluarga inti, sanak persepupuan, sanak ibu, sanak induak bako, sanak anak pisang, sanak sesuku, sejorong, senagari, dan akhirnya sesama urang awak. Karakter menolong “menyeberangkan” diwarisi setiap individu Minang, untuk menolong keluarga dan semua nan badunsanak dalam sistem kekerabatan Minang — termasuk uni Justina, uni Jus, begitu beliau dipanggil oleh kami yang berhubungan keluarga lewat uda Rivai Thaib yang juga famili, kerabat kami.
Pertama kali saya jumpa Uni Jus di masa remaja, diajak ke Bandung oleh uni Nurlaili, mentor saya, yang juga adik uda Rivai. Konon pada waktu itu di Jalan Buah Batu, domisili pertama uda Pa’i (sebutan kami rang Salayo buat uda Rivai).
Bergantianlah rang Salayo ditampung di Jalan Buah Batu. Ada yang mau menyambung sekolah, ada yang cari kerja. Mereka tinggal sementara, dibantu di awal merantau membangun kehidupan baru. Dan yang sangat berkesan di sini: Uni Jus tiap hari memasak di kediaman beliau di Jalan Cipunagara, dan di jam makan siang dikirim ke Jalan Buah Batu, tempat pendatang baru rang kampuang dari Salayo berdomisili. Uni Jus yang berpembawaan tenang menjadi mande rang Salayo, bersama da Pa’i menjadi mercu suar komunitas rang kampuangnya di Bandung.
Waktu berlalu, saya menikah; di setiap kesempatan saya datang dengan suami dan anak-anak. Uni Jus tetap sama dengan keanggunannya, dengan kebaikannya. Lima dekade berlalu. Empat anak kami berkeluarga, dan uni Jus yang baik hati dan uda Pa’i nan elok budi bijaksana pun datang melihat anak-anak kami menikah. Kami pun tetap sowan ke Bandung, kini berdua. Dan uni Jus tetap menyambut dengan kelembutan beliau. Terakhir sowan kami, tahun 2023, kini dengan rambut sudah memutih, uni Jus tetap uni yang sama.
Uni Jus telah meninggalkan kita semua. Namun kebaikan beliau, dukungan beliau kepada semua yang pernah tersentuh jangkauannya, tidak akan pernah melupakan uni Jus. Doa kami untuk ketenangan uni di alam barzah dan kekuatan buat uda Pa’i sekeluarga. Aamiin.
Saya dan istri saya Retno tidak saja dekat, tapi mengagumi pasangan ini.
Sejak awal jadi pengurus Taruna Bakti, saya sudah banyak mendengar bahwa ada murid yang terkenal, 4 orang, dengan kecantikannya — yaitu 4 orang putri dari seorang dokter terkenal, yaitu dr. Rivai.
Pada suatu hari terbetik berita bahwa dr. Rivai akan bergabung menjadi pengurus di Taruna Bakti. Tentu saja saya nantikan kesempatan itu dengan hati yang was-was: kaya apa ya dr. Rivai ini penampilannya, karena mempunyai 4 remaja putri yang menjadi “The Rose from Taruna Bakti”? Dalam bayangan saya pasti seorang pria dengan perawakan tinggi, besar, gagah, dan ganteng. Tapi setelah ketemu dengan orangnya, kok biasa-biasa aja ya?
Lain halnya pada waktu ketemu pertama kali dengan Ibu Justina Rivai. Ternyata gen kecantikan putri-putrinya berasal dari ibu. Tidak berlebihan kalau masa mudanya beliau adalah “The Rose from Padang”. Ibu percaya dengan omongan saya karena saya berani mengucapkannya di depan istri saya, pak Rivai, dan juga di depan teman-teman lain. Kesan saya, ibu selalu happy jika saya menceritakan pengalaman itu.
Ada satu hal yang sangat kami kagumi, adalah hubungan mereka pada akhir hidup Ibu: beliau begitu lengket, hampir tidak terpisah semenit pun dengan Pak Rivai. Sebagai sahabat, sering saya ingatkan pak Rivai untuk jaga kesehatan. Beliau harus mendampingi ibu sampai akhir hayatnya. Rupanya Tuhan mengabulkan doa saya bahwa Ibu harus “jalan” lebih dahulu.
23 tahun yang lalu adalah momen di mana pertama kali saya bertemu dengan Mak Tuo dan Pak Tuo, ketika saya melanjutkan studi di Jatinangor. Sebelum berangkat ke pulau Jawa, almarhum Bapak dititipi pesan oleh saudara di kampung untuk membawa saya ke rumah Mak Tuo dan Pak Tuo, menyambung tali silaturahmi. “Kak Upik” begitu panggilan akrab beliau di pihak keluarga kami.
Jika ditilik dari hubungan darah dan kekerabatan Minangkabau, antara saya dan Mak Tuo begitu jauh jaraknya. Namun, jauhnya jarak hubungan kekerabatan bukan berarti jauh pula jarak hati. Justru sebaliknya.
Ketika saya dan almarhum Bapak datang berkunjung, Mak Tuo sedang berkebun di halaman belakang rumah C23 yang penuh dengan bunga mawar berwarna merah dan pink. Di kemudian hari saya ketahui bahwa berkebun adalah salah satu kegemaran beliau. Beliau menyambut saya dan almarhum Bapak dengan senyum dan menyuguhkan kami teh hangat. Hangatnya sambutan beliau sudah dapat dirasakan oleh saya dan Bapak, yang belum pernah bertemu dan yang boleh dibilang sangat jarang bertemu beliau.
Sempat ada jeda saya berkunjung ke Cipunagara. Ada kekhawatiran di hati saya bahwa bagaimana jika nanti beliau bertanya mengapa saya sudah lama tidak berkunjung? Jawaban apa yang akan saya sampaikan? Namun, apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Bahkan sebaliknya, ketika saya tiba di Cipunagara, menyapa dan mengulurkan tangan untuk salim, beliau malah memeluk saya. Sejak saat itu, saya menyadari bahwa beliau memiliki bahasa kasih yang ditunjukkan dengan tindakan. Tidak dengan kata-kata.
Beliau tidak menyadari bahwa beliau sudah menyentuh banyak hati dan kehidupan orang-orang di sekitar beliau. Saya salah satunya. Banyak legacy yang beliau tinggalkan bagi keluarga, sanak famili, kerabat, dan sahabat. Bagi saya, di antaranya adalah devotion, compassion, set a real-life example through actions, dan strong determination. Beliau akan selalu hidup di hati kami karena beliau adalah figur panutan. Insya Allah, saya akan senantiasa menerapkan dan menurunkan legacy beliau. Saya bersyukur Allah SWT memberikan saya kesempatan untuk mengenal beliau selama kurang lebih 23 tahun. Banyak sekali kebaikan yang sudah beliau (dan keluarga) lakukan kepada saya, dan saya yakin juga bagi orang-orang di sekitar beliau.
“Mak Tuo yang baik hati dan selalu kami sayangi — terima kasih banyak untuk semua kasih sayang tulus dan tidak pernah putus. Terima kasih banyak sudah mengizinkan Sari tinggal di Cipunagara (disebut almarhum Bapak sebagai pusdiklat). Terima kasih banyak untuk kepercayaan yang Mak Tuo, Pak Tuo, dan keluarga berikan ketika Sari berada di titik terendah kehidupan. Terima kasih banyak sudah mengantarkan dan membuat Sari bisa mencapai titik ini. Terima kasih banyak ya Allah sudah mengizinkan hamba mengenal Mak Tuo.”
Kebaikan Mak Tuo, Pak Tuo, dan keluarga selamanya akan Sari kenang. Sari mohon maaf jika ada kata-kata dan tindakan Sari yang kurang berkenan di hati Mak Tuo ya. 23 tahun ternyata begitu singkat. Masih banyak cita-cita yang belum dapat terlaksana, karena Allah lebih sayang Mak Tuo. Rasanya sangat janggal sejak Mak Tuo pergi. Sari rindu Mak Tuo. Doa kami selalu menyertai Mak Tuo. Ya Allah, terimalah seluruh amal ibadah dan kebaikan Mak Tuo. Tempatkan Mak Tuo di tempat terbaik di sisi-Mu. Rahmati dan berkahi beliau. Aamiin ya Rabbal ’alamiin.
Assalamualaikum. Selamat jalan menuju Rabb-mu, seorang ibu yang baik, yang pernah saya kenal dengan panggilan Etek.
Almarhumah seorang ibu teladan karena anggun, calm, bijaksana, dan sangat mahir semua pekerjaan wanita: memasak, menjahit, merenda, dan lain-lainnya.
Dan selalu tersenyum kalau ketemu saya — mungkin ada kata-kata saya yang lucu. Etek pegang dagu saya sambil berucap “anak Hasan”, sambil beliau tersenyum, ciri khas beliau.
Cara berpakaian beliau mirip dengan saya karena saya suka dengan renda-renda Eropa, seperti renda dari Belgia.
Dan pertemuan terakhir dengan Etek pada tanggal 14 April 2026 di Restoran Simpang Raya Pasar Minggu, pertemuan Kulik-Kulik Alang. Dan beliau sebelum pamit pulang minta ditemani ke toilet. Saya antar dan beliau bilang, “Pipel… tidak ada tisu…” lalu saya memberi tisu. Dan saya mengantar beliau ke mobil untuk pulang berdua dengan bapak. Ternyata itulah pertemuan dan perpisahan terakhir saya dengan almarhumah.
Kini beliau telah pergi untuk selamanya, beristirahat dengan tenang di surganya Allah, aamiin. Atas kepergianmu kami berdoa untukmu, Etek. Bila waktunya sampai, semua kita akan ke sana. Ibu yang selalu berada di samping bapak ke mana pun pergi, sampai Allah memanggil. Kami selalu mengenangmu, mom. Maaf, ananda Pipelloni Hasan.
Yang merawat
Saya mengenal Andung sejak akhir tahun 2019, ketika saya mulai bekerja dengan anak Andung, Ibu Jenny, di Jakarta. Namun saya mulai merawat Andung dan Angku di Bandung sejak bulan September 2022.
Saat itu Andung sudah mulai sering lupa dengan kejadian-kejadian yang baru terjadi. Tetapi untuk cerita dan kenangan lama, ingatannya masih sangat baik.
Andung orangnya suka bercanda. Saya bekerja bersama suami saya, Pak Katnen, di rumah Andung dan Angku. Andung sering menggoda kami dengan berkata bahwa kami pacaran terus saat bekerja. Candaan seperti itu membuat suasana rumah selalu ceria.
Andung juga sangat menjaga kebersihan. Beliau selalu ingin mencuci piring sendiri. Walaupun kami sudah siap membantu, Andung tetap ingin mengerjakannya.
Selain itu, Andung adalah orang yang sangat waspada dan berhati-hati. Setiap malam sebelum tidur, Andung selalu memeriksa semua pintu dan jendela untuk memastikan semuanya sudah terkunci. Setelah masuk ke kamar, pintu kamar tidur pun selalu dikunci. Saya dan Pak Katnen sempat khawatir karena kalau Andung atau Angku membutuhkan bantuan, kami akan sulit masuk. Karena itu Angku memberikan saya kunci cadangan. Bahkan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar juga selalu dikunci saat dipakai. Untuk berjaga-jaga, Angku mengajari saya cara membuka pintu dari luar menggunakan koin apabila suatu saat diperlukan. Pak Katnen juga selalu membawa kunci rumah ketika keluar membersihkan halaman depan, karena takut pintu dikunci dari dalam.
Seminggu sebelum Andung berpulang, Andung dirawat di rumah sakit karena sakit perut yang tidak sembuh-sembuh. Saat dirawat itu, Andung sangat lemas badannya sehingga diminta dokter untuk menggunakan pampers supaya tidak harus ke kamar mandi. Andung merasa kurang nyaman kalau harus buang air menggunakan pampers, sehingga selalu minta diantar ke kamar mandi. Baru pada hari-hari terakhir, ketika dokter mengharuskan bed rest selama empat hari, Andung terpaksa menurut. Namun beliau selalu bertanya kapan beliau diperbolehkan berjalan dan boleh ke kamar mandi lagi. Sampai sekarang saya masih sedih karena pada saat itu saya harus menolak keinginan Andung untuk pergi ke kamar mandi.
Saat-saat terakhir bersama Andung masih sering teringat oleh saya. Saya adalah orang terakhir yang sempat berbicara dengan Andung sebelum beliau tidak sadarkan diri dan berpulang.
Saya sama sekali tidak menyangka Andung akan pergi hari itu. Sehari sebelumnya Andung masih tampak kuat. Beliau masih banyak bercanda dan bersemangat mengobrol dengan anak-anak serta saudara-saudara yang datang menjenguk pada hari Sabtu dan Minggu.
Saya sangat bersyukur karena pada hari Senin, 11 Mei, sekitar pukul 03.30 pagi, saya sempat menemani Andung berdoa, beristighfar, dan berdzikir La ilaha illallah. Saat itu Andung terbangun dan mengeluh perutnya sakit. Setelah berdoa dan berdzikir bersama, Andung menjadi tenang lalu tertidur kembali.
Sekitar pukul 06.05 pagi, Andung terbangun lagi dan mengatakan ingin buang air. Saya menjawab bahwa saya akan membeli pampers terlebih dahulu karena persediaan di kamar sudah habis. Saya hanya turun sekitar sepuluh menit. Ketika saya kembali, Andung sudah tidak sadarkan diri.
Saya segera memanggil Angku yang memang selalu menemani Andung di rumah sakit. Saya juga memanggil suster yang kemudian memanggil dokter jaga. Saya menelepon semua anak-anak Andung, yang kebetulan saat itu tidak ada di rumah sakit. Suster dan dokter sempat melakukan CPR, dan sempat terlihat denyut nadi Andung naik kembali. Tetapi akhirnya jam 7.35 pagi, Andung meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Selamat jalan, Andung. Saya sering rindu pada candaan Andung. Maafkan kalau selama saya merawat Andung ada kesalahan. Saya akan selalu mendoakan Andung.
Catatan Kecil Mama
Sebagai penutup, sebuah catatan kecil yang pernah Mama tulis untuk dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika sedang mempersiapkan Idul Fitri. Selama bertahun-tahun, rumah kami menjadi tempat keluarga dan sahabat berkumpul untuk merayakan hari raya. Beberapa hari sebelumnya, Mama sudah mulai menyusun menu, berbelanja bahan-bahan, lalu memasak — memastikan selalu ada hidangan yang disukai oleh semua yang hadir di meja makan.
Catatan ini hanya selembar kertas kecil, tetapi bagi kami ia mengingatkan pada kasih sayang, perhatian, dan kemurahan hati yang selalu Mama hadirkan dalam setiap acara — dan kepada kita semua yang pernah duduk dan menikmati hidangan di meja makannya.
Ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam hidupnya: kehadirannya bagi orang-orang yang dicintainya.
Dari buku kenangan keluarga
Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia.
Al-Fatihah